Ada Stok
Produk Digital
cerpen js khairen
Rp 1,500
Rp 0
Dapatkan Potongan 100%

EPISODE 01 - SAPI BERANAK


Jembatan akar, sore hari.

Arko setengah berlari membawa kamera di atas jembatan tua itu. Padahal sudah jelas tertulis peraturan DILARANG BERLARI JIKA MASIH SAYANG NYAWA. Namun tampaknya ia lebih sayang kamera daripada nyawanya sendiri. 


Jembatan itu terus berguncang. Membuat seorang nenek dari arah berlawanan berteriak marah sekaligus ketakutan. Nenek ompong itu melilitkan handuknya ke kepala. Di tangan kanan ada ember merah kecil yang isinya sabun mandi, sampo, dan odol. Saat Arko hendak menyalip, si nenek harus menepi dan berteriak-teriak.


“Nek awas Nek awaaaas!” Dari jauh sudah Arko beri sinyal. Padahal jembatan ini tak boleh berguncang-guncang.

“E’an e’aa u’uh, e’an e’aa u’uh.”[1] maki nenek itu setelah mengucapkan istigfar. Tangan rentanya menggenggam erat-erat jembatan akar. Isi embernya sampai tumpah-tumpah. 


A’ti a’ang i’am’ar e’ir.”[2]  Sumpah serapah nenek itu pada Arko.


“Ampun Nek, buru-buru, ampun,” teriak Arko sambil terus berlari. 


Makin ke ujung, makin kencang lari Arko dan makin terguncanglah jembatan itu. Di saat yang sama, si nenek mencoba memunguti peralatan mandinya. Sabun, berhasil diambil, sampo agak sulit, tetapi berhasil. Odol juga berhasil. Lalu lihatlah, sikat giginya tersangkut agak jauh. Meski sikat gigi itu tak lagi terlalu berguna bagi si nenek yang giginya tersisa tinggal dua, tapi si nenek mencoba meraihnya. 


Ia menjongkok dengan susah payah, meraih dan terus meraih. Saat hendak dapat, guncangan jembatan makin kencang karena Arko di ujung sana terus berlari. Tak jadilah sikat gigi itu dapat diambil si nenek. Sikat giginya malah jatuh.


A’ek i’i o’e a’uak ah ‘aang!”[3]


Arko memang harus berlari. Ia baru saja dapat tawaran untuk memotret sebuah pesta pernikahan. Setelah hampir empat bulan tinggal di kampung halamannya yang terpelosok ini, akhirnya ada juga orang yang mau menggunakan jasa fotonya. 


Dulu saat masih di megapolitan, dalam sebulan Arko bisa minimal dapat dua atau tiga pesanan. Kini, setelah empat bulan, akhirnya ada juga yang mau. Itu juga setengah harga dibanding saat masih di megapolitan sana.


Jembatan seolah hilang di tengah hutan, berganti jalanan yang buruk. Arko melihat satu mobil proyek membawa sawit dan memberi kode pada pengemudinya. Pengemudi itu mengangguk tapi tak menghentikan kendaraannya, terus melaju pelan. Arko mencoba meraih bagian belakang mobil itu. Susah. Ia terus berlari.


Arko lempar tasnya ke bak terbuka. Kini badannya lebih enteng. Ia coba sekali lagi, tangannya meraih besi bagian belakang mobil. Dapat. Arko menarik badannya untuk masuk. Belum bertugas saja, sudah sesak napas. Sudah berliter-liter keringat.


Tadi malam Arko tak bisa tidur. Banyak hal penyebabnya. Pertama, apakah ia masih bisa memotret orang yang menikah? Sudah lama tak mendapat pekerjaan ini. Kedua, karena perkembangan karier kawan-kawannya yang ia pantau lewat media sosial hingga pagi. Jadilah ia baru tidur pagi pukul delapan, dan baru terbangun dengan tergesa pukul tiga sore. 


Karier Ogi, Gala, Sania, Randi, bahkan Juwisa yang patah tangan dan kaki itu makin menanjak. Semua memberi tekanan hebat pada Arko. Andai ia seperti kawan-kawannya, tinggal di Megapolitan. Pasti sudah melejit pula hidupnya. Semua kesuksesan teman-temannya itu membuat Arko tertekan. Ia ingat kembali istilah tukang foto, generasi bacot, berkarya dan berkaryawan. Ia ingin melakukan pembuktian.


Tentu Arko juga memantau terus media sosial Vanessa. Gadis Italia yang ia ngarep untuk jadi kekasihnya.


Mobil pembawa kelapa sawit itu membunyi-bunyikan klakson. Ini kode agar Arko bersiap turun. Di depan ada pabrik. Itu kawasan khusus. Orang umum tak boleh masuk. Di sebelum pabrik itu, nah itu dia, ada  jalan raya yang angin saja kadang malas lewat.


Arko tak mungkin menanti bis atau truk lain yang hendak menuju ibukota kabupaten. Pasangan yang hendak menikah ini rumahnya tiga puluh kilometer dari kampung kecil Arko. Jika dalam lima menit ada bis yang lewat, maka Arko takkan terlambat sampai sana.


Ia tunggu lima menit, tak ada. Arko menjalankan rencana cadangannya yaitu, tidak ada. Ya, satu-satunya cara adalah berjalan kaki. Arko menelusuri jalanan beraspal nan sepi lagi becek itu dengan kakinya. Dulu, saat sekolah SD dan SMP ia biasa melakukan ini dengan kawan-kawan. Tentunya sambil ceria gembira ria. Entah kenapa, kini rasanya berbeda. Amat melelahkan.


Di jalanan ini, dulu ada saja kejadiannya. Bertemu buaya rawa, sudah biasa. Bertemu ular besar, apalagi. Bertemu sapi beranak, pernah juga. Tadinya hanya Arko dan kawan-kawan yang menontoni sapi beranak itu, lama-kelamaan, makin banyak penontonnya. 


Beda dengan sore ini, tak ada buaya rawa, tak ada ular besar, apalagi sapi beranak. Hanya ada seekor katak yang sudah mati terlindas entah sejak kapan.


Arko mempercepat langkahnya. Terus-terusan ia melihat ke depan dan belakang, semoga ada saja pengendara motor, atau kendaraan umum, atau apa pun lah yang bisa ditumpangi demi ia bisa datang tepat waktu ke tempat kliennya.


Dilihatnya ponsel, sinyal tak ada. Pesan terakhir dari klien itu satu jam yang lalu. Tepat saat Arko hendak menyeberangi jembatan akar. 


Matahari makin tergelincir. Gawat jika ia tak sampai di sana sebelum malam. Pesta pernikahan adalah gengsi. Jika tukang foto terlambat, bisa rusak marwah keluarga. Sudah disiapkan pesta sedemikian rupa, sampai harus jual tiga puluh batang pohon kelapa, masa abang bawa kamera telat pula? Apa kata tetangga?


Akhirnya ada sebuah mobil yang lewat. Itu mobil ambulans. Tak ada bunyi ngiu-ngiu yang terdengar. Artinya tak ada orang sakit, atau jenazah dalam ambulans itu. Arko mencoba menyetopnya.


Di dalam mobil, si sopir tak mau berhenti. Namun si penumpang, malah memintanya berhenti. Lihatlah, siapa penumpang itu. Begitu menepi di dekat Arko, ia marah-marah. Ternyata si nenek yang tadi. Ia tergelincir saat hendak mengambil sikat gigi. Si nenek tak jatuh ke sungai, tetapi terselip di antara akar yang besar. Ia terkilir dan harus dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya.


A’ang! E’an! A’uyuak a’ang!”[4]


Terpaksa Arko mengunci telinganya dan meminta maaf sejadi-jadinya pada si nenek dan keluarganya. Arko tak ada pilihan lain, sudah dua puluh menit lebih ia berjalan tak juga ada kendaraan. Ambulans ini akan menuju puskesmas terdekat.


“Ngebut, Uda!” pinta Arko. Ngebut karena ia harus buru-buru sampai di pesta pernikahan itu, dan ngebut karena telinganya sudah pekak mendengar si nenek yang tak henti marah-marah sudah seperti suara kereta seribu gerbong.

***