Episode 1 novel Melangkah
Ini adalah episode 1 dari novel Melangkah. Untuk baca selengkapnya kamu bisa pesan langsung di marketplace Toko Buku JS Khairen.
2/19/20265 min read


EPISODE 01 - PERTARUNGAN KUDA
Runa memacu kuda kecilnya agar sejajar dengan Bapanya di depan. Ia senang sekali namun tak tahu cara mengungkapkannya.
“Bapa, hebat sekali pasti? Ramai orang bawa kuda, bertarung begitu?”
Bapa Runa tak membalas anaknya. Ini bukan pertarungan biasa. Membawa bocah seusia Runa juga bukan tanpa alasan. Ini adalah pertarungan hidup mati.
Bapa membetulkan pakaian adat Sumba kebesarannya. Selembar tenun yang melilit kepala, selembar lainnya yang lebih besar mengelilingi pinggang. Bapa menyelipkan sebuah parang di tenun berwarna alam itu. Ia mengenakannya dengan rasa bangga. Tak ada rasa getir, padahal bisa saja sebentar lagi maut menjemputnya.
Yunu, orang kepercayaan Bapa Runa dan juga guru berkuda Runa, langsung menarik kuda Runa agar menjauh lagi ke belakang dan bergabung bersama rombongan laki-laki berkuda lainnya.
Bapa harus berkonsentrasi. Biasanya yang digenggam adalah tombak-tombak tumpul seperti layaknya Festival Kuda Pasola. Namun kali ini, di ujung kayu itu ada bilah belati tajam yang dibuat dari cangkang penyu.
Setelah melewati puluhan lembah dan bukit sabana, rombongan Runa sampai. Ini adalah tempat yang asing. Bukan tempat yang umum untuk melaksanakan pertarungan pasola.
Tak kurang delapan puluh laki-laki berkuda dari marga lain telah menunggu mereka. Semuanya juga lengkap dengan tombak berbelati, menatap tajam rombongan Runa sambil mengunyah sirih pinang yang memerahkan bibir mereka, semerah nyala api.
Seorang dari rombongan lain itu mendekat, tampaknya ia yang paling kuat. Ia berkuda ke tengah gelanggang. Bapa Runa menyusul. Mereka berbicara. Runa melihat dari jauh, tak tahu apa yang dibicarakan, tapi bisa merasakan percikan api permusuhan dari keduanya.
Tak lama Bapa Runa berteriak tanpa menoleh. “Kemari Runa!”
Jantung Runa seperti meletus. Baru sekarang, Runa merasakan betapa pentingnya pertarungan ini. Rasa senangnya karena menjadi satu-satunya anak di bawah umur yang ikut Pasola kini berganti dengan rasa takut.
Yunu dan para lelaki lain mengangguk pada Runa, remaja tanggung itu. Anggukan untuk meyakinkan Runa agar menyusul ayahnya ke tengah. Yunu menyejajarkan kudanya dan si Hitam, kuda Runa, dan berbisik di telinganya.
“Kau ada lihat itu hutan? Jika di tengah nanti terjadi hal buruk pada Bapamu, pada kami, lari ke sana yang kencang. Bawa si Hitam bersamamu. Lari kau terus hingga suaramu tak bisa didengar lagi, hingga jejak langkahmu tak bisa terlihat lagi.”
Runa mengangguk takut.
“Runa! Cepatlah!” teriakan itu lagi.
“Baik, Bapa!” Runa melaju bersama si Hitam. Dia berdiri di tengah arena pertarungan, di antara dua pasukan beda kampung yang siap saling serang.
Runa menelan ludah. Pertarungan di mulai, para petarung pasola dari kedua pihak saling menombak. Pasukan Bapa Runa berjumlah lima puluh penunggang kuda, musuh mereka lebih banyak, hampir dua kali lipat.
Pasukan Bapa Runa lebih tangguh melempar tombak. Satu orang bisa merobohkan tiga hingga empat lawan. Formasi mereka berbentuk busur berlapis, memusingkan lawan yang hendak menyerang.
Pasola ini berbeda dengan Festival Kuda Pasola yang biasa Runa lihat. Pada festival, hanya lempar tombak saja tanpa ada pisau atau belati di ujungnya. Tujuannya juga untuk perayaan panen. Orang-orang bersuka cita begitu festival selesai. Ini beda sekali. Satu tancapan di dada, orang itu pergi untuk selamanya.
Napas Runa tertahan ketika sebuah tombak terbang di dekat kepala ayah.
“Bapa!” desis Runa. Tangannya gemetar. Beberapa pasukanya terluka, ada yang tumbang namun memaksakan berdiri dan kembali ke kudanya, ada pula yang tewas.
Pertarungan berjalan sengit. Jika Bapa Runa dan pasukannya menang, maka pihak musuh menjamin tidak akan menyerang kampung Runa. Sebaliknya, jika mereka kalah, batu sebesar rumah yang ada di bukit di kampung Runa, harus diserahkan untuk pemakaman raja dari Suku Seberang.
Sudah terbayang oleh mereka, menggerek batu besar itu dengan tenaga ratusan orang ke kampung mereka. Sambil menarik batu itu, mereka akan menyanyikan lagu-lagu semangat dan meminum tuak. Di saat yang sama, ratusan ekor ternak kuda, ayam, dan babi akan disembelih lalu disantap. Tentu mereka akan melakukannya dengan suka cita. Mendiang bapa raja mereka akhirnya bisa dikuburkan setelah dua belas tahuno dimumikan dengan tenun Sumba. Ya dikubur dengan batu besar di belakang rumah Runa itu.
Bukan itu saja, jika kalah, maka Runa harus diserahkan ke pihak lawan sebagai piala kemenangan. Ini yang Runa tidak mengerti kenapa dirinya dijadikan taruhan. Yang pasti, pertarungan baru dinyatakan selesai jika salah satu pihak menyerah atau tewas semua.
Singgg. Tombak melesat kencang mengenai ikat di kepala Bapa. “Bapa!” teriak Runa, tapi tak ada yang mendengar.
Rona wajah Bapa Runa berubah. Pasukannya kini tinggal enam. Sementara pihak lawan masih tiga puluh orang. Ada yang aneh dari tombak-tombak musuh. Pasukan Bapa Runa tak banyak menerima luka fatal seperti pasukan lawan tapi jumlah mereka menyusut dengan cepat. Darah mengubah sabana yang tengah menguning menjadi merah.
Enam kuda kini dikepung. Musuh tertawa-tawa, meludah ke mayat yang bergelimpangan.
Bapa Runa tak sedikit pun getir. Mati demi Bapa Raja dan kampung adalah satu kehormatan besar. Tak ada rasa khawatir meski Runa harus melihatnya terbunuh. Bapa Runa memberi aba-aba agar bersiap. Yunu tampak mencari-cari Runa.
“Hei kau cepat pergi!” Yunu memerintah Runa, ia menunjuk-nunjuk arah hutan dan bukit.
“Yunu, biarkan saja. Saya punya anak tak boleh jadi penakut!” teriak Bapa Runa.
Yunu bergeming. Musuh kembali mendecak kuda. Dengan tatapannya, Yunu tetap memerintahkan anak didiknya untuk pergi meski harus melawan Bapa Runa.
Runa menggeleng takut. Tepat saat ia menggeleng, sebuah tombak menancap di dada Yunu. Darah mengalir deras. Runa berteriak namun tanpa suara. Matanya memerah seketika.
Yunu tidak memutuskan tatapannya dari Runa. Tatapan akhir hayatnya seakan memerintahkan Runa untuk segera lari seperti yang ia perintahkan. Yunu, salah satu ksatria terkuat dari kampung Runa, tewas.
“Hari ini, kita mati di sini!” Bapa Runa memberi aba-aba.
Lima pasukan Bapa Runa, dengan tenaga dan keyakinan tersisa, berhasil menumbangkan sebelas lawan. Kini lima lawan sembilan belas orang. Meskipun pasukan Bapa Runa kuat, jumlah lawan yang masih banyak perlahan-lahan menyudutkan mereka. Bapa Runa berteriak keras, mengeluarkan suara mengelu-elu yang menyeramkan.
“KAYAKA YA WUYA WUUU!" Matanya membara, urat di lehernya keluar.
Tiba-tiba dari arah bukit, datang sebuah mobil jip. Mobil itu melesat mendekati gelanggang. Orang dari dalam jip membuka kaca, ia membidik dan DOR!
Suara pertarungan yang penuh teriakan dan desing tombak, tiba-tiba dihentikan oleh suara tembakan. Satu peluru menembus tubuh pasukan Bapa Runa. Ia rebah seperti kertas tisu yang diberi air.
DOR! DOR! DOR! Tiga tembakan lagi, merebahkan tiga pasukan tersisa. Kini tinggal Bapa Runa sendiri.
“Hei Umbu Mala! Anda lebih memilih mempertahankan sebuah batu besar dan nyawa satu anak rupanya ya. Sekarang lihatlah, harga yang harus Anda bayar.”
Si Penembak itu turun dari mobilnya, melihat semua tubuh pasukan Bapa Runa yang tergeletak.
Bapa Runa menahan sesak nafasnya.
“Sekarang mana dia? Anak itu hadiah kami, sesuai ramalan,” kata orang itu lagi.
Runa mendengar ini. Bapa mencarinya dengan pandangan. “Runa!”
“Aih itu dia!” Orang itu memerintahkan dua penunggang mengejarnya.
Bapa Runa gesit, ia hantam dua penunggang itu dengan satu gerakan tombak, dan satu hunusan parang.
“Baiklah.” Si Penembak tadi mengokang senjatanya. DOR!
“Bapa!” Runa berteriak.
Tembakan itu tepat mengenai dada Bapa Runa. Tubuh itu rebah, bahkan sebelum sempat berbicara apa-apa. Tatapan akhir hayatnya pada Runa berbicara sejuta pesan.
Teriakan Runa tadi disadari pihak lawan. Runa mencoba menahan tangisnya. Segera ia decak Si Hitam, kuda kecilnya itu menuju arah hutan yang ditunjuk oleh Yunu tadi.
Runa mencoba menengok ke belakang. Bapa masih hidup dan mencoba berdiri. Tiba-tiba seseorang menendangnya dengan keras, Runa dan Si Hitam sudah jauh menghilang di hutan.
“Payah sekali kalian, sudah hampir menang, lama sekali menghabisi mereka,” ujar Si Penembak. “Hei itu jangan lepas anak itu, kejar!”
“Hei Umbu Mala.” Si Penembak menatap keji pada tubuh Ayah Runa yang tertembak di dekat dada. “Sayang sekali, sampai di sini sudah. Ini risiko yang harus kau terima. Sampai jumpa,” kata si Penembak.
“Satu hari kau akan terima balasannya-”
DOR! Belum selesai Bapa Runa berbicara, peluru itu melewati tengkoraknya. Ia jatuh lepas ke tanah.
“Kuda yang kuat dan cantik sekali,” bisik Si Penembak.
“Akan diapakan kuda ini, Pak Prabu?” tanya Umbu Mala, pemimpin pihak musuh.
“Sekarang kuda ini milikku!”
Petarung dari pihak musuh menarik kuda-kuda milik pasukan Bapa Runa yang masih hidup. Sementara para penunggangnya, mereka bunuh semua.
Di atas si hitam, Runa terus menahan tangisnya. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Semua ksatria berkuda dari kampungnya, dibantai di depan matanya. Ia harus segera sampai di kampungnya. Bukan tidak mungkin kampung Runa adalah sasaran berikutnya.
***