Episode 1 novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas
Ini adalah episode 1 novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Untuk baca selengkapnya bisa pesan di marketplace Toko Buku JS Khairen.
2/6/202611 min read


Tiap kita punya musuh besar.
Ia hadir lebih menakutkan dari kegelapan.
Menyengat lebih panas dari Aldebaran.
Lebih berbahaya dari bisa King Cobra yang melumpuhkan.
Lebih dingin daripada kutub Bumi yang membekukan.
Di mana musuh itu berada?
Dalam jiwa kita sendiri.
Cara menaklukkannya?
Engkau sendiri yang tahu, kawan.
EPISODE 1 – BOM TIKUS
Kampus UDEL, pagi hari.
Ogi ngebut dengan motor gado-gadonya. Ini hari pertamanya kuliah di kampus yang hidup segan mati tak mau ini. Kampus UDEL. Reputasi kampusnya? Amburadul. Mahasiswanya? Gempar menggelegar.
Ketiklah nama kampus ini di mesin pencarian google, googlenya sudah malu duluan. Cobalah ketik sekarang, keluarkan ponsel Anda, ketiklah Kampus UDEL, Universitas Daulat Eka Laksana, pasti tidak akan bertemu. Itu karena google malu meletakkan keberadaan kampus ini di situs mereka. Jika orang berlomba-lomba bagaimana bisa tampil paling atas di google, kampus UDEL justru berupaya agar tak muncul.
Kuliah adalah suatu keterpaksaan bagi Ogi. Siapa lagi yang memaksa untuk ikut tes dan mendaftar kuliah, kalau bukan sahabatnya si Randi Jauhari alias Ranjau. Si Ranjau ini, amatlah bergairahnya untuk kuliah. Berkebalikan dengan Ogi yang lebih doyan dengan permainan daring (game online) dan nonton bokep!
Bagi Ogi, kuliah adalah suatu kemunduran mental. Sementara bagi Ranjau, kuliah adalah prestasi membanggakan! Ini adalah akhir dari perjuangan beratnya. Bagi Ranjau, perjuangan untuk bisa diterima di kampus UDEL ini ibarat mendaki gunung, lewati lembah, dikejar beruang yang lagi PMS, terjun ke jurang, kesasar di padang pasir, kecebur di sungai Amazon dan dikejar Anakonda sebesar pohon kelapa, jatuh dari air terjun tinggi puluhan meter dan ketusuk duri putri malu beracun, hanyut terus ke laut, dikejar belut listrik, disetrum, sampai di laut dijilat biawak air payau yang juga kesasar, lalu dihantam karang dan ditunggu ikan purba megalomon. Saat Ranjau hampir dimakan, tiba-tiba datang sekoci bernama kampus UDEL. Yah tak apalah, setahun menganggur dan tes sana-sini, Ranjau akhirnya bisa kuliah juga, meskipun di kampus antah barantah.
Hari ini mereka tidak langsung kuliah, tidak pula ikut ospek. Sistem itu sudah dihapus oleh rektor baru.
“Ini kan sistem pembodohan, harus kita buang dari kampus UDEL jika ingin maju.” Bisik rektor para para pembantunya ketika memutuskan untuk menghapus yang namanya ospek.
Oh ya, kampus UDEL ini baru saja memiliki rektor baru. Rektor muda yang tidak terlalu muda, tidak pula terlalu tua, ya tengah-tengahlah.
Hari ini, kampus meminta seluruh mahasiswa baru berkumpul sesuai pembagian kelas konseling masing-masing. Tiap kelas akan didampingi satu dosen konseling, dan dosen itu akan mendampingi mahasiswa konselingnya hingga lulus kelak. Satu kelas konseling, isinya terdiri dari tiga puluh mahasiswa dari berbagai jurusan.
“Bu Lira ini, katanya masih muda banget bro. Asoy semlohai nih pasti, penasaran gue pengen lihat orangnya.” Desah Ogi begitu memarkir gmotor gado-gadonya. Mereka berjalan ke arah kelas.
“Oh gosh! Dasar lo botak! Otak bokep masih aja di pelihara. Udah mahasiswa juga lo!” Jawab Ranjau kesal namun tetap mencoba pasang tampang elegan.
“Botak-botak apaan? Rambut lo tuh kaya Kim Jong Un, klimis-klimis unyu! Kok lo ngatain fisik gue mulu sih? Lagian antara bokep dan status mahasiswa, itu dua hal yang gak ada nyambung-nyambungnya nyet! Gimana sih? Udah mahasiswa juga lo!” Balik Ogi membentak Ranjau.
Ogi ini memang hebat betul soal syahwat. Sejak SMA namanya sering diplesetkan menjadi Om Gigolo atau sesekali Onta Gila, tergantung siapa yang ingin menghinanya. Sementara Ranjau, hmm, sebenarnya dia memang tampan berkat rambut klimisnya. Sebelas dua belas dengan Ogi. Ogi sebelas, Ranjau dua belas juta. Istilah rambut Kim Jong Un barusan, sebenarnya hanya ungkapan kekesalan Ogi buat Ranjau yang kelewat tampan dan rapi.
Mereka berdua sampai di kelas dan tampak cuek bebek. Ogi dengan tampang masa bodoh, Ranjau dengan tampang sok cool. Tiga puluh mahasiswa sudah duduk dengan tidak rapi, namanya juga kampus coret, maka sudah sepantasnya mahasiswanya juga amburadul, tapi ada juga satu dua yang menjaga sopan santun seperti di buku PPKn.
Alasan kuliah bagi tiga puluh anak ini rata-rata hampir sama. Ya karena terpaksa kuliah atau karena malu tidak diterima di manapun, biar kuliah aja.
Mahasiswa UDEL adalah mahasiswa ujung tebu. Tebu manis bukan? Nah cobalah gigit ujungnya, hambar rasanya. Tidak ada semut yang mau, tidak bisa diolah jadi gula. Begitulah nanti mahasiswa UDEL kalau sudah lulus. Jadi tebu hambar. Ijazah mereka tidak berguna.
Seorang mahasiswi masuk diiringi sensasi bingung-bingung-senang di kepala tiap mahasiswa. Mahasiswi itu membawa koper dan beberapa kotak pizza besar-besar. Beberapa mahasiswa mencoba menggodanya. Beberapa yang lain bingung melihat kenapa ia bawa pizza segala, padahal tidak ada yang pesan makanan, lebih bingung lagi melihat koper hitam yang ia bawa. Ngapain? Mau piknik?
Nafas mahasiswi itu tersenggal, keringat mengalir dari kening dan anak rambutnya. Berbagai kiwkiw dan acuwiwit menyambut kedatangannya. Ia menjatuhkan kopernya dan semua tertawa.
Mahasiswi cantik ini membetulkan blazernya. Menyeka keringatnya dan tiba-tiba memukul meja dengan keras lalu berteriak, kencang betul. “Kalian!” Kalimatnya tertahan, matanya menjurus pada mereka yang tadi menggodanya. Mereka terdiam dan kecut, kini ia tampak batal marah. Satu kelas ujug-ujug terdiam.
“Hello class my name is Lira Estrini Ph.D.” Ternyata ia dosen konseling di kelas ini. Mampuslah para mahasiswa yang tadi menggoda. Saat selesai menyebut namanya, selesai pula ia menuliskan namanya di papan. Namun ia langsung menghapus gelar Ph.Dnya. “Gak penting gelar. So unimportant.” Bu Lira langsung meminta beberapa mahasiswa untuk membagikan pizza yang ia bawa pada seluruh kelas. Seketika kelas langsung fokus dan air wajah semua mahasiswa langsung tampak segan. Pizza ini adalah strategi hebat merebut hati satu kelas yang isinya anak-anak gak jelas ini.
“Sebagai dosen konseling, sampai kalian lulus nanti, kita akan bertemu dua hingga tiga kali tiap semester. Tugas saya memastikan kalian semua kuliah dengan benar and on the right track untuk lulus dengan kualifikasi terbaik, juga untuk memastikan kalian tetap menjaga mimpi kalian. Yang tadi kiwkiw dan aciwiwit, selesai kelas ini menghadap ke ruangan saya. Tidak ada toleransi untuk orang yang masih saja merendahkan lawan jenis., Anda kira sekarang ini tahun berapa? Masih saja cat calling. Di Amerika sana, Anda bisa dituntut penjara. Memang sih saya masih 29 tahun, pantesan lo semua… kalian semua… ah udah-udah. Mari kita fokus lagi.” Bu Lira mengatur nafasnya. “Baiklah. Sekarang saya ada satu pertanyaan. Semua harus menjawab.”
Kelas tiba-tiba menjadi amat fokus. Bu Lira bertanya satu pertanyaan serius. “Siapa di kelas ini yang merasa dirinya anak pintar?”
Kelas hening. Tidak ada yang menjawab.
Bu Lira Estrini adalah lulusan S3 Rekayasa Genetika Hewan. Sekolahnya jauh sampai ke Amerika. Cerdas sekali sebetulnya. Ia sudah menjadi kepala penelitian penting tentang rekayasa genetika di negeri Donald Trump sana. Kini usianya masih 29 tahun dan akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia.
“Again, siapa yang merasa dirinya anak pintar, silakan angkat tangan.” Nada suaranya mulai lembut, tatap matanya makin rendah dan menyenangkan. Masih tidak ada yang angkat tangan.
Tiga puluh mahasiswa-mahasiswi ini, tentu tidak ada yang berani. Jelas mereka mahasiswa UDEL, para mahasiswa buangan. Apalagi jika dibandingkan dengan Bu Lira Estrini. Sungguh tidak pantaslah mereka mengaku pintar.
“Well, jika tidak ada. Saya ganti pertanyaannya yah, siapa yang merasa bodoh di kelas ini?”
Tanpa pikir panjang, Ogi langsung angkat tangan. Semua mahasiswa tertawa kekeh, termasuk Ranjau. Ogi bingung. Ia turunkan tangannya perlahan, menggaruk kepalanya yang tak berambut. Bu Lira tersenyum tipis, menyembunyikan bibirnya di balik telapak tangan.
“So, I’m asking the real question again, siapa yang merasa pintar? Masa’ kalian gak ada yang merasa pintar? Dari kecil disekolahkan sama orangtua? Ditanya siapa yang bodoh juga cuma satu orang yang angkat tangan. Ayo, jadi siapa yang pintar di kelas ini?” Tanya Bu Lira lagi dengan lebih bersemangat.
Perlahan satu per satu mahasiswa itu angkat tangan. Termasuk Ranjau. Ogi tidak, ia tetap konsisten kalau ia merasa dan layak menyandang nama si bodoh. Semua mahasiswa tampak percaya diri mengangkat tangan meski mereka adalah mahasiswa kampus bodong. Ini ibarat pengakuan bahwa, sebego-begonya mereka, maka akan selalu ada harapan untuk menjadi pintar. Paling tidak angkat tangan sajalah dulu. Wah, hari pertama kuliah saja kepercayaan diri mereka langsung tumbuh gara-gara sebuah pertanyaan penting. Betul-betul hebat!
“Gitu dong! Pada angkat tangan semua.” Bu Lira menepuk tangannya sendiri. “Ogi! Kamu keluar kelas ini! Sekarang!” Bentaknya.
Suasana kelas jadi canggung. Ogi tak percaya mendengarnya.
“Iya sekarang! Apalagi yang kamu tunggu? Kamu bilang kamu bodoh kan tadi?”
Seketika Ogi ingat babenya yang rela menahan malu berhutang emas demi bangku kuliah Ogi di UDEL ini. Apalagi ruko kecil tempat mereka sekeluarga tinggal adalah jaminan utang itu. Ah, ini hari pertama saja sudah diusir. Pasti ayahnya akan sedih. Ogi tidak menunggu dibentak sekali lagi. Dengan anggukan tipis, ia berjalan ke pintu dengan lesu.
Kini Ogi di luar, ia berjalan ke arah tak menentu. Lesu sekali langkahnya. Waktu terasa berjalan lambat sekali di kepala Ogi. Tiba-tiba Ogi mendengar namanya dipanggil lagi, disusul bunyi debum pintu yang amat keras.
“Ogi!” Itu Bu Lira. “Sini, nonton sama saya! Lucu nih!”
Ogi bingung.
Nonton? Nonton apa yang lucu? Kenapa nada bicara Bu Lira tiba-tiba jadi baik? Padahal tadi gue baru aja dimarahin dan diusir?
Bu Lira mendekat ke jendela kelas. Pintu sudah tertutup rapat dan digembok dari luar! Ogi mendekat pula ke jendela. Bu Lira melihat ke dalam kelas dengan amat sentosa. Di kelas terdengar suara gaduh yang luar biasa. Suara pekikan, suara ketakutan, suara gempar menggelegar. Sementara Bu Lira mengintip sambil tertawa lepas dari jendela ini.
“Tadi kalian semua bilang kalian pintar kan? Hahahahahaha! Cobalah selamatkan diri kalian dari kelas ini! Hati-hati gigitan tikus-tikus itu amat berbahaya. Efek paling parah adalah mati!” Bu Lira menoleh pada Ogi, ia mendesis. “Ya itu karena cairan ludah tikus itu, Ogi. Bisa demam atau ya paling tetanus dikitlah. Susah menjelaskannya. Paling sial ya mati.”
“Mati itu beneran bu?” Getir Ogi. Ia getir karena dua hal. Pertama karena melihat kelas yang kocar-kacir. Kedua karena berdiri di sebelah Bu Lira yang cantik semlohay aduhai, pikir Ogi.
Bu Lira mengangguk tipis mengkonfirmasi bahwa mati memang bisa terjadi karena gigitan tikus-tikus ini. Ogi tak habis pikir, ia tak tahu apa yang sedang terjadi. Kenapa tiba-tiba bisa ada ratusan tikus di dalam kelas itu? Ia melihat koper yang tadi dibawa Bu Lira sekarang dalam posisi terbuka. Kini ratusan tikus lapar dan liar ini mengerubungi apapun yang bisa mereka telan. Entah pizza, entah jari-jemari para mahasiswa.
“Masa menghadapi tikus-tikus busuk ini saja kalian tidak bisa. Apalagi menghadapi kejamnya dunia? Nanti setelah kalian lulus, di luar sana, dunia nyata jauh lebih menjijikkan daripada tikus-tikus ini! Mau jadi apa kalian setelah lulus? Sarjana Kertas? Ngerasa pintar, hebat di atas kertas, tapi menghadapi dunia nyata malah gak bisa? Kalian ini mahasiswa, bukan maha-sisa!”
***
Kelas konseling yang menggemparkan itu selesai, seluruh mahasiswa berpencar ke jurusan masing-masing untuk kuliah pertama.
Sebelumnya, tikus-tikus itu ditaklukkan amat mudah oleh Bu Lira dengan sebuah remote control. Begitu ia memencet sebuah tombol, muncul semprotan bebauan yang mengeluarkan aroma khas dari koper itu. Aroma itu membuat tikus kembali berkumpul ke dalam koper. Setelah semua tikus masuk, dengan memencet satu tombol lainnya, koper itu tertutup otomatis. Sangat mungkin Bu Lira punya kemampuan dan teknologi seperti ini. Dia adalah dokter hewan, pakar rekayasa genetika lulusan Amerika.
Ini adalah tes pertama bagi mereka, bagi mahasiswa kelas bimbingan kelas Bu Lira. Ungkapan Sarjana Kertas dan maha-sisa begitu terasa menghina di telinga, sampai ke hati. Apalagi mereka dibanding-bandingkan dengan tikus. Seakan-akan mereka semua adalah manusia yang akan menjalani hidup dengan penuh kesia-siaan.
Setelah kelas aman, beberapa mahasiswa yang tergigit tikus, diberi vaksin khusus oleh Bu Lira sang ahli rekayasa genetika. Ia menjamin, paling tidak 99% kemungkinan si korban tidak akan mati. Paling tipes-tipes sedikit. Canda Bu Lira. Atau rabies juga bisa. Sambungnya. Atau minimal muntah berdarah lah.
Setelah itu, sekitar satu jam Bu Lira bercerita dan menginformasikan banyak hal. Mulai dari pengalamannya kuliah dulu, cara mengatur waktu, mengatur diri sendiri hingga mengukur mimpi. Ia juga mengajarkan mahasiswa beradaptasi dengan cepat pada kehidupan kampus yang amat berbeda dengan SMA.
Kelas dibubarkan begitu semua aturan dan informasi administrasi selesai dibagikan. Meski begitu, Ranjau masih saja kesal karena tadi di tempat ia berdiri berkali-kali ia dilewati tikus. Ranjau bahkan terjatuh hingga lecet.
“What was that?” Ranjau kesal. “Ternyata dalam kopernya itu tikus Gi! Lo mikir gak sih doi dosen gila! She’s a crazy nuts!” Ranjau langsung mengeluarkan ponselnya, membuka media sosial dan mengabarkan pada seluruh dunia kalau ia baru mengalami kejadian maha dahsyat. “Look at this, hari pertama kuliah sudah ada oleh-oleh luka! Crazy!” Ia bicara sendiri pada layar ponsel.
“Buset bro, bahasa Inggris campur-campur lo balik lagi dah tuh. Efek dicipok tikus ye?” Canda Ogi kesal karena Ranjau masih sempat-sempatnya update.
Ranjau meniup-niupkan sikutnya yang terluka. Bukan karena gigitan tikus. Tadi di kelas, Ranjau yang merasa jijik malah refleks manjat meja. Tak lama beberapa mahasiswi yang histeris juga naik ke meja yang sama. Lama-lama meja itu penuh dan Ranjau tergeser hingga jatuh. Ia bisa saja mendarat dengan kedua telapak kaki, namun karena ada ratusan tikus yang berlari-lari di lantai, ia jadi tak seimbang dan jatuh lalu mendarat dengan sikutnya lebih dulu.
Mereka lanjut berjalan menuju ruangan kelas.
Ogi dan Ranjau sama-sama jurusan Ilmu Komunikasi. Ranjau mengerti kenapa ia memilih jurusan ini. Demi masa depan yang lebih cerah dengan pekerjaan yang menjanjikan dan bergaji besar. Sementara Ogi, tidak paham sama sekali kenapa harus jurusan komunikasi. Ia ikut-ikut saja dengan Ranjau. Seperti baling-baling di atas bukit. Ke mana arah angin, ke sana ia menghadap. Kuliah saja Ogi terpaksa.
Kuliah pertama adalah Pengantar Ilmu Komunikasi. Ranjau antusias sekali sementara Ogi kebalikannya. Tidak ada mahasiswa lain dari kelas konseling Bu Lira yang ternyata satu jurusan dengan Ogi dan Ranjau. Mereka lihat wajah mahasiswa lain tampak biasa-biasa saja, tidak ada tanda-tanda habis kena teror bom tikus. Pastilah dosen konseling mereka tidak segila Bu Lira.
“Woi kawan!” Seseorang memanggil Ogi dan Ranjau. “Ah ada tadi tu nampak sama kalian dosen kita itu gila betul ya?” Seorang mahasiswa gondrong menepuk mereka dari belakang, di lengannya bergantung sebuah kamera mirrorless kekinian. “Ah gue Arko, tadi juga sekelas konseling sama kalian. Jurusan komunikasi juga? Aku juga!” Arko terdengar masih canggung menyapa dirinya sendiri dengan gue atau aku.
Mereka bertiga saling berkenalan dan masuk ke dalam kelas yang sama. Ogi sempat bertanya apakah kamera yang dibawa-bawa Arko tidak rusak gara-gara kejadian tikus tadi? Ranjau juga bertanya, kenapa lo bawa-bawa kamera ke kampus. Arko menjawab, “Aih panjang ceritanya kawan.”
Seorang dosen masuk ke dalam kelas. Ia tidak memperkenalkan diri tapi mahasiswa bisa melihat namanya di silabus yang barusan diunduh di situs UDEL. Pak Jaharizal M.Sos.
“Buka buku cetak halaman empat belas!” Perintah Pak Jaharizal. Suaranya serak.
Seisi kelas bingung. Tak tahu menahu soal buku cetak. Baru hari pertama kuliah, mana mereka tahu buku apa yang harus dibawa. Silabus juga baru punya barusan.
“Tidak ada yang punya? Gimana sih. Payah!” Celetuknya sayup-sayup. “Jadi gak usah kuliah lah ya? Bubar saja kelas ini! Ini kelas Pengantar Ilmu Komunikasi, tapi kok tidak ada yang punya buku?”
Ranjau mengangkat tangan. “Maaf pak, apa judul bukunya?” Mahasiswa lain saling berbisik-bisik, ada juga yang langsung meminta izin hendak ke perpustakaan meminjam buku tersebut.
“Judulnya, Dasar-dasar Ilmu Komunikasi.” Jawab Pak Jaharizal sambil bergerak pergi ke arah pintu, benar-benar ingin pergi dia rupanya.
“Atau, kalian bisa beli bukunya pada saya. Asli dari penerbit. Saya jual lebih murah. Empat ratus lima puluh ribu satu buku. Kalau beli di toko, bisa satu juta. Ada yang mau beli hari ini? Saya ambil sebentar. Silakan catat namanya di kertas saya ini.”
Ogi berbisik pada Ranjau dan Arko yang tadi baru ia kenal. “Buset buku apaan tuh? Buku jampi-jampi? Ini universitas atau sarang dukun? Segitu harganya kok mahal amat!”
Beberapa mahasiswa tampak masih berbisik-bisik. Beberapa ada yang langsung ngacir ke ATM, beberapa memeriksa dompet.
Ranjau berinisiatif. “Ogi, Arko, how if kita patungan aja? Seratus lima puluh ribu each person?”
Ogi membalikkan bola matanya dan bergeleng dengan gaya menjijikkan. “Ogah!”
Arko juga ketus. “Alah mahal sekali tu. Dosen apa ini menjadikan mahasiswa objek dagangan? Aku jauh-jauh dari Pesisir Selatan sana, mana, tak ada uangku untuk buku semahal itu? Untuk bayar kuliah dan kosan saja sudah pas-pasan.” Bela Arko. Seketika Ranjau dan Ogi melirik kamera mirrorless milik Arko. “Ah ini panjang ceritanya kawan.”
Hanya beberapa mahasiswa yang bisa membeli buku hari itu juga. Beberapa lagi terpaksa seperti orang tolol di kelas. Ternyata hari pertama, kuliah pertama di jurusan Ilmu Komunikasi UDEL ini, yang terjadi adalah, sang dosen memerintakan mahasiswanya untuk menyalin dan merangkum buku halaman empat belas sampai halaman tiga puluh lima. Yak ditulis ulang pakai tangan, disalin! CBSH, Catat Buku Sampai Habis.
Sementara para mahasiswa menyalin, Pak Jaharizal menghitung-hitung lembar rupiah di tangannya. Sudah terbayangkan ia hendak membayar kredit motor, utang pada adik ipar yang menunggak empat setengah bulan, mengajak istrinya ke restoran Jepang yang agak mahal, dan membeli singlet baru karena yang lama sudah bolong-bolong. Air mukanya berubah senang. Oh ya, dua lagi, uang itu akan dia pakai bayar kontrakannya yang sudah menunggak tiga bulan dan beli sepatu kulit baru KW Thailand yang ia lihat di toko daring (toko online) sejak dua bulan yang lalu. Semoga jumlahnya cukup, bisiknya dalam hati. Kalau kurang, minggu depan harga buku saya naikkan!
Sungguh hari kuliah pertama yang menakjubkan! Paginya Ogi, Ranjau dan Arko dikagetkan dengan bom tikus di kelas Bu Lira, seorang dosen muda cantik yang tampak masih ada sisi labil di jiwanya. Sekarang siangnya malah dipalakin dan disuruh menyalin oleh dosen hampir tua yang hanya meminta mahasiswa menyalin isi buku.
“Kalau kuliah gini doang mah, anak SD juga bisa nyet! Masa’ nyalin buku?” Celetuk Ogi pada Ranjau. “Elo lagian, maksa-maksa gue ikut daftar kuliah.” Terbayang-bayang di kepala Ogi, muka Mpok Titis si pemilik emas yang akan datang mencecar ayahnya untuk segera ganti rugi. Emas itu, untuk bangku kuliah yang kini diduduki Ogi. Ogi teringat bengkel butut milik babe dan warung kecil milik emak adalah jaminan utang itu.
Sementara Ranjau, terbayang-bayang impiannya untuk bisa punya pekerjaan dengan gaji tinggi kelak. Untuk mengangkat derajat keluarganya, demi senyum ibunya yang hanya PNS rendahan dan ayahnya yang seorang supir pribadi seorang pejabat yang untungnya tidak korupsi.
Kalau begini ceritanya, dosennya mafia begini, mungkin impian mereka itu akan susah diraih. Dalam hati Ranjau berpikir bahwa ia harus berjuang lebih berat selama kuliah ini. Sementara Ogi dalam hati, tidak tahu mesti apa. Karena memang itulah Ogi, manusia serba tidak tahu. Ke mana angin berhembus, ke sanalah ia menghadap. Namun angin yang akan datang kali ini, adalah badai yang belum pernah dialami Ogi sebelumnya.
***