Episode 1 novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi
Ini adalah episode 1 novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi. Untuk baca selengkapnya bisa pesan di marketplace Toko Buku JS Khairen.
2/7/20268 min read


Gedung tinggi fondasinya harus kuat.
Menancap ke dalam dan tak terlihat.
Jika ujian hidupmu kelam dan pekat,
Anggap saja agar kelak kau tinggi mencuat.
EPISODE 01 - SARANG TIKUS
Bank EEK, siang hari.
Sania keluar dengan tampang kusut, seperti susah buang air besar. Padahal ia barusan bukan dari toilet. Melainkan dari ruangan Mbak Asti, manajer personalia di Bank EEK ini. Rapor kerjanya buruk sejak bergabung tiga bulan lalu.
Bank EEK, Emirates Equity of Kathar. Namanya saja sudah hebat, dari Timur Tengah, milik raja minyak padang pasir. Pasti ini tambang emas, pikir Sania kala dulu menerima pekerjaan di sini.
Tak tahunya, memang betul sih tambang emas. Tapi ibarat emas tulang lunak yang sering hanyut di sungai-sungai. Dari jauh, warna dan bentuknya seperti emas. Saat sudah dekat, aih sudah, lembek dan bau. Paslah namanya Bank EEK. Malang betul nasib Sania, sudahlah lulus dari Kampus UDEL, kerja di Bank EEK pula.
Uang banknya banyak, tapi tak sebanding dengan cara mereka memperlakukan manusia. Begitu setidaknya pikir Sania. Lagi pula uang yang banyak itu, uang orang lain semua.
Jika dibanding gaji Sania, uang bank ini ibarat Bintang VY Canis Majoris, bintang terbesar yang diketahui di alam semesta. Sementara gaji Sania ibarat atom yang dibagi tujuh, lalu dibagi tujuh lagi, lalu dibagi tujuh lagi sampai tujuh puluh tujuh kali. Jumlah uang milik bank ini, ibarat angin badai maha raksasa di Planet Jupiter, sementara gaji Sania hanyalah angin kentut semut. Itupun bayi semut. Bayi semut yang paling mungil dari semua bayi semut.
Meski begitu, tak jarang anak-anak Bank EEK ini pamernya minta tobat saat nongkrong dengan kawan-kawannya. Pamer betapa hebatnya gaji mereka. Seakan dunia ini bisa dibeli semua oleh mereka. Seakan semua bisa mereka kunyah saja dengan kartu kredit mereka. Seakan untuk bisa pergi ke semua tujuan wisata dan punya gadget canggih itu sepetik jari saja oleh mereka. Untuk soal pamer minta tobat ini, Sania tak pernah. Apa yang hendak dipamerkan? Kartu kredit? Ponsel baru? Foto jalan-jalan? Sania tak punya itu semua. Bagaimana mau punya, uangnya habis tak tentu.
Selepas keluar dari ruangan Mba Asti itu, Sania berjalan cepat menuju kubikelnya. Saat melewati kubikel Tessa, Sania yang tadi kusut langsung mengubah mimik muka agar terlihat biasa saja. Seakan bilang kalau “gak dimarahin tuh gue sama Mbak Asti, mau apa lo setan? Dasar centil tukang jilat!”
Padahal yang terjadi sebaliknya. Sania tidak bisa bekerja baik dalam tim. Tadinya ia satu tim dengan Tessa. Juga dengan dua anak lainnya. Namun sebulan berjalan, Sania dikeluarkan dari proyek itu. Sania dinilai tidak mampu mengikuti kecepatan anak-anak lain dalam bekerja. Aih pantaslah tak bisa punya uang banyak kau Sania.
Di luar sana, ada saja sebetulnya bank lain yang berbanding terbalik dengan Bank EEK dalam memperlakukan karyawan. Banyak sekali bank yang masih memandang manusia sebagai betulan manusia. Bukan orang-orangan sawah. Dulu ketika diterima di Bank EEK ini, semangat betul Sania. Semangatnya melebih semangat tentara Vietnam digabung tentara Korea Utara, digabung tentara-tentaraan di papan main Monopoli sekaligus. Sekarang sudah mulai runtuh semangatnya itu.
Bagaimana tidak. Selama bekerja, Sania sering tak fokus. Sebentar-sebentar main ponsel. Sebentar-sebentar menyanyi di kubikelnya sendiri. Gajinya tak pernah cukup rasanya. Belum setengah bulan berjalan, sudah mengeluap. Apalagi soal jam pulang kerja. Pukul lima sore tepat dia sudah pulang. Teng go kalau kata rakyat. Ya, mana ada cerita dapat bonus lembur.
Bagi Sania, bekerja di atas jam lima adalah bentuk sejati perbudakan. Dulu, saat zaman kerajaan atau penjajahan, mereka diberi palu, cangkul, segala macam. Kini mereka diberi laptop dan ponsel canggih. Ini hanya anggapan Sania saja.
Bertolak belakang dengan kawan-kawannya. Bekerja bagi mereka adalah simbiosis mutualisme. Mereka beri keringat, mereka terima manfaat. Itulah setidaknya yang diyakini Tessa, Dean dan Jeffry. Mereka adalah pekerja keras. Tak jarang sampai jam tujuh atau jam delapan malam mereka masih di Bank EEK ini, mencukil biji-biji emas. Mana tahu satu dari sekian emas tak bertulang yang hanyut, ada emas betulan yang bisa mereka telan untuk modal liburan dan gadget canggih. Bagi mereka, memberi lebih untuk mendapatkan lebih.
Bertambah-tambah kesal Sania, karena tahu Tessa - alumni Kampus UDIN yang membanggakan itu - baru saja naik gaji. Padahal ia sama dengan Sania, sama-sama baru bekerja tiga bulan. Bisa dikatakan jarang sekali orang naik gaji setelah baru tiga bulan masuk kerja, tapi itulah Tessa. Dengan segala kelihaiannya bekerja, ia mendapat apa yang ia pantas dapatkan.
Sementara Sania, tiga bulan kena evaluasi buruk. Sania diberi waktu tambahan tiga bulan lagi oleh Bank Equity of Kathar ini, untuk membuktikan dirinya bisa memberikan kinerja terbaik. Jika gagal lagi, ia akan diminta mengundurkan diri.
“Jadi mau lanjut kerja di sini atau tidak?” Tanya Mba Agnes tadi. “Kita beri waktu tiga bulan lagi. Jika kamu masih tidak perform, mau tidak mau....” Mba Agnes tak melanjutkan kalimatnya. Sania sudah mengerti.
“Tapi mungkin saya tidak akan kerja lembur sering-sering ya mba. Rumah saya jauh. Di Bekasi.” Sania menyebut kota satelit yang dulu pernah jadi meme abadi di media sosial, yang kini, tahta itu sudah diambil alih oleh kota satelit lainnya yaitu Depok.
Di kubikelnya, pantat Sania mendarat tidak mulus di kursi. Di sebelahnya, Lina tersenyum sambil melepas headsetnya. Lina satu-satunya anak baru yang akrab dengan Sania. Selebihnya? Cibidit ajigijaw semua. Lina inilah yang kini jadi satu tim dengan Sania.
Sania tak membalas senyum Lina. Malah menghela nafas besar-besar dan mengerinyitkan kening. Lina memanjangkan tangannya dan memijit-mijit kecil pundak Sania.
“Gapapa, semangat ya.” Bisik Lina dengan nada yang amat rendah dan menenangkan.
Sania melanjutkan pekerjaannya. Membalas email yang tertunda, menghitung-hitung biaya proyek yang sedang berjalan, hingga menyiapkan bahan analisis untuk supervisornya.
Selama melakukan itu semua, Sania cukup sering mengintip media sosial. Meski ia tak terlalu aktif memposting foto, tapi ia aktif melihat-lihat berbagai hal mulai dari informasi tak penting, Youtube, hingga ratusan meme yang banjir di media sosial.
Konser Coldplay di Singapura! Tulisan di poster yang sudah dua bulan terakhir sering dilihat Sania. Ia ingin betul hadir. Sebagai mantan musisi gagal, ada juga sedikit hasratnya menonton. Jelas tiketnya mahal, belum lagi ongkos pulang pergi ke sana. Meski Coldplay bukan band luar negeri paling favoritnya, dia gatal betul ingin datang pula. Siapa lagi yang mengajak kalau bukan Tessa dan ganknya. Lawak pula, di kantor Sania ada perang dingin dengan Tessa, tapi saat diajak nonton konser, mau-mau saja. Jika ditanya band luar negeri favorit Sania, jawabannya White Lion, Guns and Roses, Still Heart hingga Dream Theater.
Setelah mantap ingin datang ke konser itu, meski uangnya belum tahu dari mana, baru kemudian ia selesaikan membalas email pekerjaannya. Baru selesai membalas email, ia buka lagi ponselnya.
“Buka rekening di PinjamOnline.com sekarang juga! Bebas biaya pendaftaran.” Akhirnya Sania menemukan solusi untuk Coldplay.
Sudah beberapa minggu belakangan Sania yakin tidak perlu meminjam uang ke mana-mana. Namun, baru saja dia dapat kabar kalau evaluasi kinerjanya buruk. Gajinya batal naik. Jadilah sekarang Sania berencana meminjam uang di situs ini. Untuk apa lagi kalau bukan untuk nonton konser, beli tiket pesawat, dan untung-untung beli gitar baru. Juga ponsel baru, baju-baju yang muantap ajigijaw, perawatan wajah dan rambut, semua lah pokoknya.
Gitarnya sudah hancur dikeping Babe saat ia masuk penjara gara-gara seisap dua isap dulu. Gitar satunya lagi yang pemberian Randi - mantannya ketika SMP yang juga sama-sama kuliah di Kampus UDEL - adalah gitar jelek yang malu-maluin kalau harus dipakai.
Sania membuka rekening PinjamOnline.com itu. Waktu tagihnya adalah tiga bulan. Ia yakin nanti tiga bulan lagi performanya akan membaik, tabungannya akan cukup, dan gajinya pasti naik. Pasti bisa bayar utang ini. Santuylah.
Setidaknya, semangatnya yang sedikit runtuh karena evaluasi buruk tadi, bisa kembali tumbuh jika didorong dengan nonton konser. Sebuah cara berpikir yang aneh. Kinerja sedang tak bagus, gaji tak jadi naik, malah nonton konser agar semangat kerja naik lagi. Lebih lawaknya lagi, nonton konser ini sebetulnya adalah ajakan Tessa dan kawan-kawan. Sania takut merasa tidak gaul. Ia takut tidak ikut. Ini bisa jadi ajang memperbaiki hubungannya yang rusak, lebih tepatnya rusak hanya dalam anggapannya saja dengan Tessa dan yang lainnya
Jam menunjukkan pukul lima tepat. Dua pekerjaannya belum selesai. Pertama, menghitung-hitung proyek yang akan dijalankan. Kedua, menyiapkan analisis untuk supervisornya. Tadi jam setengah dua siang, dua pekerjaan ini baru dikerjakan sepuluh persen, sekarang sudah pukul lima, hanya bertambah lima persen. Santuy tetap di hati.
“Lina, aku ada janji ketemu teman-teman kuliah nih.” Sania berkemas. “Nanti aku selesaiin di jalan ya. Atau di rumah.” Sania menyelesaikan make-up-nya. Masih make-up murah, namun perjuangannya membeli itu sungguhlah gempar menggelegar. Wajahnya segar kembali seperti pagi hari. Satu semprot parfum ia bubuhkan pada lehernya, satu semprot lagi di pergelangan tangan.
Lina tertahan, bibirnya menganga tipis. Setahu Lina, tak pernah Sania benar-benar berkomitmen dengan nanti aku selesaikan di rumah ya. Lina sudah memprediksi ini, sehingga dia sudah selesai kerjakan dua tanggung jawab Sania itu.
“Udah kok, gue udah selesaiin, tinggal dikasih ke Mba Laksmi.” Lina tersenyum ikhlas. Ia juga mulai berkemas hendak pulang.
Mereka berdua sama-sama melanggeng bebek menuju lift. Satunya dengan pekerjaan tuntas, satunya bahkan setengahnya saja tak beres. Persis saat lift itu tertutup, Tessa Dean dan Jeffry langsung berkumpul.
“Pasukan teng go!” Sindir Dean.
“Anti lembur-lembur club!” Sambung Jeffry.
“Skuyyy, demi liburan dan hape baru! Semangat terus kita guys!” Tessa menyemangati dua rekannya.
“Demi halan-halan!” Dean dan Jeffry mengganti J dengan H. Supaya terdengar lebih kekinian dan kebarat-baratan. Orang barat saja tak begitu. Mereka lebih pula dari orang barat.
Tepat saat mereka selesai mengucapkan halan-halan itu, Mba Laksmi, supervisor Sania dan Lina keluar pula dari ruangannya.
“Sania? Lina?”
“Udah pulang mba.” Dean menjawab sungkan dengan nada hormat.
Lima menit setelah itu, Lina datang lagi. Ia tergesa menuju mejanya, menyalakan laptop yang merupakan pemberian kantor, memprint sesuatu, dan menuju ruangan Mba Laksmi.
Tessa dan kawan-kawan melihat Lina bersemangat betul menyelesaikan semuanya dengan cekatan. Begitu keluar dari ruangan Mba Laksmi, mereka berjalan menuju lift berdua. Sudah pukul enam.
“Kamu pulang ke arah mana?”
Lina menyebutkan wilayah tempat tinggalnya.
“Oh kalau gitu naik mobil saya aja ya, sampai keluar tol. Kasihan kamu sudah pulang telat gara-gara saya.” Tawaran Mba Laksmi.
“Aduh, ga enak mba. Saya naik kereta aja, udah biasa. Gak macet juga.”
“Tapi di kereta kan ramai, kamu capek. Gapapa sekali-sekali saya antar.”
Di tempat lain, Sania baru saja turun dari ojek daring (ojek online) yang tarifnya kini makin mahal, lebih tepatnya makin menyesuaikan seiring sudah begitu terikatnya orang dengan ojek daring. Sania sampai di Tanina Coffee. Ia akan bertemu dengan kawan-kawan kuliah Kampus UDEL. Grup Kelompok Ogi. Meski Ogi sudah tak lagi ada di grup itu, namanya tetap sama.
Belum ada yang datang. Sania memesan makanan dan minuman. Harganya digabung jadi seratus lima puluh ribu. Santuylah. Uang masih ada. Dulu ia di sini jadi penyanyi mingguan, yang kalau lapar tunggu gratisan. Kini enteng betul dia pesan makanan yang harganya sungguh ajigijaw untuk kantongnya.
Sembari menunggu yang lain, Sania menengok grup obrolan di ponselnya. Heboh sekali mereka. Ini reunian lengkap pertama setelah terakhir kali reunian itu terjadi di wisuda Sania.
“Jadi udah pada kerja dan sukses semua ya sekarang?” Tanya Bu Lira di grup itu. “Berhasil bertahan di sarang tikus?”
Makanan datang. Sania melahapnya. Bertahan di sarang tikus? Sania ingat dulu kelas pertama saat di Kampus UDEL.
Waktu itu Bu Lira, dosen muda yang jadi mentor mereka, datang membawa berkotak-kotak piza dan sebuah koper.
“Siapa yang merasa pintar di kelas ini?” Tidak ada yang angkat tangan.
“Siapa yang merasa bodoh?” Hanya satu orang yaitu Ogi, dan ia diusir dari kelas seketika itu juga.
“Siapa yang merasa pintar?” Bu Lira bertanya sekali lagi.
Tak lama, Bu Lira membagikan piza pada semua yang merasa pintar sebagai hadiah. Saat semua mahasiswa termasuk Sania melahapnya, ternyata diam-diam Bu Lira ikut keluar kelas dan menggembok dari dalam.
Koper yang tadi ia bawa, terbuka otomatis. Keluarlah seratusan lebih ekor tikus ganas. Ini adalah tikus-tikus yang sengaja dipelihara Bu Lira, mengingat dia seorang doktor lulusan rekayasa genetika hewan dari Amerika.
Tikus-tikus itu mengerubungi apa saja. Makanan, meja, kursi dan para mahasiswa yang merasa pintar itu. Termasuk Sania. Mereka panik. Ada yang luka tergigit, ada yang lecet terjatuh karena menghindar, bahkan ada yang luka sobek lumayan besar.
“Masa menghadapi tikus-tikus busuk ini saja kalian tidak bisa? Apalagi menghadapi kejamnya dunia? Nanti setelah kalian lulus, di luar sana, dunia nyata jauh lebih menjjijikkan daripada tikus-tikus ini! Mau jadi apa kalian setelah lulus? Sarjana kertas? Ngerasa pintar, hebat di atas kertas, tapi menghadapi dunia nyata malah gak bisa? Kalian ini mahasiswa, bukan maha-sisa!”
Ingat betul Sania kejadian itu. Bu Lira dan Ogi menonton mereka dari luar jendela seakan tak berdosa. Ogi yang mengaku bodoh itu, di semester dua kena DO. Setelah melewati serangkaian alur hidup yang ganas, kini ia malah nyangkut kerja di salah satu perusahaan bergengsi dunia. Alphabet Inc. Perusahaan yang membahagi Google dan banyak raksasa teknologi lainnya. Kantornya di Amerika sana, Silicon Valley, gajinya dollar. Tapi tak punya gelar sarjana. Gempar menggelegar betul Ogi ini.
Sania menyantap habis tuna aglio olionya. Beberapa teguk jus semangka memperlancar makanan itu menuju perut. Tiada logika memang tanpa logistik. Sania mulai turun kekesalannya setelah tadi kena evaluasi buruk.
Juwisa datang, si hijaber ubin masjid yang selalu bikin suasana adem.
“Hai sayaaang.” Sania memeluknya, peluk sepuluh ribu kilometer.
“Maaf baru sampai. Tadi mapnya agak meleset.” Juwisa melihat sekeliling, yang lain belum datang juga rupanya.
“Wuih, apaan nih?” Sania bertanya isi kantong plastik putih yang dibawa Juwisa.
Juwisa mengeluarkannya. Itu dua buah buku. Trik Jitu Lulus Ujian CPNS, dan satu lagi berjudul Baca Buku Ini! Anda Pasti Diterima Beasiswa LUDP!
Sania mencoba menebak-nebak. Juwisa hendak menceritakan. Ia pesan minum terlebih dahulu. Juwisa pun bercerita.
***