Episode 1 novel Kami (Bukan) Generasi Bac*t
Ini adalah episode 1 novel Kami (Bukan) Generasi Bac*t
2/7/20266 min read


Penolakan adalah cara waktu mempersiapkan sesuatu yang lebih baik.
EPISODE 01 - SAPI BERANAK
Jembatan akar, sore hari.
Arko setengah berlari di atas jembatan tua itu. Padahal sudah jelas ada peraturan, DILARANG BERLARI JIKA MASIH SAYANG NYAWA. Kini ia lebih sayang kameranya daripada nyawanya sendiri. Sudah lama ia tak dapat orderan foto sejak tinggal di kampung. Uangnya tipis, semangatnya menggebu-gebu.
Jembatan itu terus bergoncang. Membuat seorang nenek dari arah berlawanan, berteriak marah sekaligus ketakutan. Nenek ompong tak bergigi, melilitkan handuknya ke kepala. Di tangan kanan ada ember merah kecil yang isinya sabun mandi, sampo dan odol. Saat Arko hendak menyalip, si nenek harus menepi dan berteriak-teriak.
“Nek awas nek awaaaas!” Dari jauh sudah ia beri sinyal. Padahal jembatan ini tak boleh bergoncang-goncang.
“E’an e’aa u’uh, e’an e’aa u’uh.” Setan kepala tujuh, setan kepala tujuh. Maki nenek itu setelah mengucapkan istighfar. Tangan rentanya menggenggam erat-erat jembatan akar. Isi embernya sampai tumpah-tumpah.
“A’ti a’ang i’am’ar e’ir.” Mati waang disambar petir. Sumpah serapah nenek itu pada Arko.
“Ampun nek, buru-buru, ampun.” Teriak Arko sambil terus berlari.
Makin ke ujung, makin kencang lari Arko dan makin terguncanglah jembatan itu. Di saat yang sama, si nenek mencoba memunguti peralatan mandinya. Sabun, berhasil diambil, sampo agak sulit, namun berhasil. Odol juga berhasil. Lalu lihatlah, sikat giginya tersangkut agak jauh. Meski sikat gigi itu tak lagi terlalu berguna, karena gigi si nenek yang tersisa tinggal dua, tapi si nenek mencoba meraihnya.
Ia menjongkok dengan susah payah, meraih dan terus meraih. Saat hendak dapat, goncangan jembatan makin kencang karena Arko di ujung sana terus berlari. Tak jadilah sikat gigi itu dapat diambil si nenek. Sikat giginya jatuh.
“A’ek i’i o’e a’uak ah ‘aang!” Dapat istri kaya beruk waang saya sumpahi!
Arko memang harus berlari. Ia baru saja dapat tawaran untuk memotret sebuah pesta pernikahan. Setelah hampir empat bulan tinggal di kampung halamannya yang terpelosok ini, akhirnya ada juga orang yang mau menggunakan jasa fotonya.
Dulu saat masih di megapolitan, dalam sebulan Arko bisa minimal dapat dua atau tiga pesanan. Kini, setelah empat, akhirnya ada juga yang mau. Itu juga setengah harga dibanding saat masih di Megapolitan sana.
Jembatan hilang di tengah hutan, berganti jalanan yang buruk. Arko melihat satu mobil proyek membawa sawit dan memberi kode pada pengemudinya. Pengemudi itu mengangguk tapi tak menghentikan kendaraannya, terus melaju pelan. Arko mencoba meraih bagian belakang mobil itu. Susah. Ia terus berlari.
Arko lempar tasnya ke bak terbuka. Kini badannya lebih enteng. Ia coba sekali lagi, tangannya meraih besi bagian belakang mobil. Dapat. Arko menarik badannya untuk masuk. Belum bertugas saja, sudah sesak napas. Sudah berliter-liter keringat.
Tadi malam Arko tak bisa tidur. Banyak hal penyebabnya. Pertama, apakah ia masih bisa memotret orang yang menikah? Sudah lama tak mendapat pekerjaan ini. Kedua, karena perkembangan karir kawan-kawannya yang ia pantau lewat media sosial hingga pagi. Jadilah ia baru tidur pagi jam delapan, dan baru terbangun dengan tergesa jam tiga sore.
Karir Ogi, Gala, Sania, Randi, bahkan Juwisa yang patah tangan dan kaki itu makin menanjak. Semua memberi tekanan hebat pada Arko. Andai ia seperti kawan-kawannya, tinggal di Megapolitan. Pasti sudah melejit pula hidupnya. Semua kesuksesan teman-temannya itu, membuat Arko tertekan. Ia ingat kembali istilah tukang foto, generasi bacot, berkarya dan berkaryawan. Ia ingin melakukan pembuktian.
Tentu Arko juga memantau terus media sosial Vanessa. Gadis Italia yang ia ngarep untuk jadi kekasihnya.
Mobil pembawa kelapa sawit itu membunyi-bunyikan klakson. Ini kode agar Arko bersiap turun. Di depan ada pabrik. Itu kawasan khusus. Orang umum tak boleh masuk. Di sebelum pabrik itu, nah itu dia, jalan raya yang angin saja kadang malas lewat.
Arko tak mungkin harus menanti bis atau truk lain yang hendak menuju ibukota kabupaten. Pasangan yang hendak menikah ini, rumahnya tiga puluh kilometer dari kampung kecil Arko. Jika dalam lima menit ada bis yang lewat, maka Arko takkan terlambat sampai sana.
Ia tunggu lima menit, tak ada. Arko menjalankan rencana cadangannya yaitu, tidak ada. Ya, satu-satunya cara adalah berjalan kaki. Arko menelusuri jalanan beraspal nan sepi lagi becek itu dengan kakinya. Dulu, saat sekolah SD dan SMP ia biasa melakukan ini dengan kawan-kawan. Tentunya sambil ceria gembira ria. Entah kenapa, kini rasanya berbeda. Amat melelahkan.
Di jalanan ini, dulu ada saja kejadiannya. Bertemu buaya rawa, sudah biasa. Bertemu ular besar, apalagi. Bertemu sapi beranak, pernah juga. Tadinya hanya Arko dan kawan-kawan yang menontoni sapi beranak itu, lama-kelamaan, makin banyak penontonnya.
Beda dengan sore ini, tak ada buaya rawa, tak ada ular besar, apalagi sapi beranak. Hanya ada seekor katak yang sudah mati terlindas entah sejak kapan.
Arko makin mempercepat langkahnya. Terus-terusan ia melihat ke depan dan belakang, semoga ada saja pengendara motor, atau kendaraan umum, atau apapun lah yang bisa ditumpangi. Demi ia bisa datang tepat waktu ke tempat kliennya.
Dilihatnya ponselnya, sinyal tak ada. Pesan terakhir dari klien itu satu jam yang lalu. Tepat saat Arko hendak menyeberangi jembatan akar.
Matahari makin tergelincir. Gawat jika ia tak sampai di sana sebelum malam. Pesta pernikahan adalah gengsi. Jika tukang foto terlambat, bisa rusak marwah keluarga. Sudah disiapkan pesta sedemikian rupa, sampai harus jual tiga puluh batang pohon kelapa, masa abang bawa kamera telat pula? Apa kata tetangga?
Akhirnya ada sebuah mobil yang lewat. Itu mobil ambulance. Tak ada bunyi ngiu-ngiu yang terdengar. Artinya tak ada orang sakit, atau jenazah dalam ambulance itu. Arko mencoba menyetopnya.
Di dalam mobil, si supir tak mau berhenti. Namun si penumpang, malah memintanya berhenti. Lihatlah, siapa penumpang itu. Begitu menepi di dekat Arko, ia marah-marah. Ternyata si nenek yang tadi. Ia tergelincir saat hendak mengambil sikat gigi. Si nenek tak jatuh ke sungai, namun terselip di antara akar yang besar. Ia terkilir dan harus dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya.
“A’ang! E’an! A’uyuak a’ang!” Waang setan! Kecoa besar!
Terpaksa Arko mengunci telinganya dan meminta maaf sejadi-jadinya pada si nenek dan keluarganya. Arko tak ada pilihan lain, sudah dua puluh menit lebih ia berjalan tak juga ada kendaraan. Ambulance ini akan menuju puskesmas terdekat.
“Ngebut Uda!” Pinta Arko. Ngebut karena ia harus buru-buru sampai di pesta pernikahan itu, dan ngebut karena telinganya sudah pekak mendengar si nenek yang tak henti marah-marah sudah seperti suara kereta seribu gerbong.
***
Malam sekali Arko baru sampai di rumah. Wajahnya berseri-seri sehabis menerima uang segepok. Wajah yang beda betul dengan empat bulan belakangan. Begitu masuk rumah, ia mendengar suara batuk-batuk.
“Amak sudah siapkan makan malam waang.” Mata Amak tampak lima watt. Terbangun gara-gara Arko baru pulang. Wajah Amak ikutan berseri-seri, akhirnya Arko ada pekerjaan.
Lepas mandi dan menyantap makan malamnya, ternyata Amak masih bangun. Inilah kesempatan Arko. Ia berusaha membuka pembicaraan serius dengan Amak. Sudah lama ia ingin mengatakan ini. Pembicaraan yang dibuka dengan sendawa lepas.
“Mak. Arko janji akan pulang tiap bulan. Itu kalau Amak izinkan kembali ke Megapolitan.” Sudah lama ia hendak mengucapkan ini.
Amak menahan batuk dan kantuknya. “Tidak pernah Amak melarang. Dari dulu juga sudah boleh. Asal kompak-kompak sama adik waang. Amak sendiri di sini tidak masalah. Dari sendiri, kita kembali sendiri.”
“Nanti kalau sudah sukses, Arko beli rumah di sana. Kita tinggal di ibukota dengan Puti juga.”
Tersenyum Amak mendengar itu. “Ini lah rumah Amak sekarang.”
“Kalau begitu rumah kedua.” Elak Arko.
Cahaya remang di rumah kayu sederhana tengah hutan itu merambat terang. Terus merambat ke pelupuk jiwa Arko. Selama empat bulan ini, dia hanya rebahan saja. Ke ladang malas. Membantu Amak di proyek milik Ayah Gala, ya hanya sampai mengantar saja. Cari peluang foto, aih, mana ada penjaja teh talua di pinggiran ini perlu foto dan video canggih. Apalagi buruh proyek, apalagi nenek-nenek ompong.
Esoknya, seharian Arko mengedit dan pergi mencetak foto pernikahan kemarin. Ia baru pulang malam lagi. Honornya, ia belikan sebuah ponsel tak terlalu canggih untuk Amak.
“Ini mak. Kalau nanti Arko dan Puti telpon. Bisa nampak wajah di sini.”
Amak bercampur emosi menerimanya. Artinya bulat sudah Arko akan pergi lagi. Satu sisi anak bujangnya ini seperti di ranta jika tetap di kampung. Tempat ini bukan ladang rezeki yang bisa ia cangkul dengan kemampuan handalnya. Empat bulan, ia tidur-tiduran saja. Beda betul semangatnya ketika ada proyek foto.
“Arkodak Fadimas Putra.” Amak sudah menyebut lengkap nama anaknya sendiri. Ini pertanda hal amat serius. “Pergilah. Cuma sapi yang sampai besar pun ikut memamah pada orangtuanya. Kau anak manusia, bukan anak sapi. Merantaulah.”
Dua hari setelah itu, Arko pamit di depan pintu. Amak kini benar-benar berdiri sendiri. Tak ada apa-apa selain hutan di sekelilingnya.
“Bawa ini untuk Puti. Amak masak randang. Jangan berkelahi ya.” Amak menahan tangisnya. “Juga untuk Juwisa, kawan sekamarnya Puti yang cantik itu. Mana tahu nanti dia mau jadi menantu Amak. Oh iya, Lira itu juga yang dulu. Kasih dia sedikit. Jadi yang mana calon waang?”
Arko yang hendak menangis, malah tertawa. Ia kulum tangisnya. Arko pergi, melambai, untuk terakhir kalinya. Saat Arko pergi, Amak seakan melihat bayangan seorang laki-laki. Almarhum suaminya, sedang berjalan melambai pula.