Episode 1 novel Kami (Bukan) Fakir Asmara
Ini adalah episode 1 novel Kami (Bukan) Fakir Asmara. Untuk baca selengkapanya bisa pesan di marketplace Toko Buku JS Khairen.
2/19/20268 min read


Ada yang letih berjuang, demi menjadi bintang terang.
Agar orang yang ia dambakan, tumbuh rasa sayang.
Rupanya orang itu tak mencari bintang.
Melainkan Bumi untuk pulang.
EPISODE 01 – KADAVER
Kampus UDIN, malam hari.
Bau mayat menusuk hidung Lira. Ia harus menjalani sebuah ritual horor. Masuk ke laboratorium anatomi sendirian. Terkunci dari luar, dan lampu sengaja dimatikan. Ia harus mencari sebuah kertas petunjuk.
Aroma formalin pengawet mayat-mayat ini menguap. Membuat air mata remaja empat belas tahun itu keluar sendiri. Ia berjalan meraba-raba.
Klontanggg.
Kakinya menabrak benda keras. Lira sudah mengira itu adalah keranda. Ia raba apa yang ada di atasnya. Daging lembek milik "sang guru" alias kadaver. Mayat atau jenazah yang sudah diawetkan. Di dunia medis, mayat untuk tujuan edukasi ini disebut kadaver. Para mahasiswa menganggap mereka sebagai the silent teacher atau guru yang tak pernah bicara.
Lira mencari senternya. Di ruangan ini, tak ada lagi celah untak fjik atau takut. Siap tidak siap, mental sudah harus siap. Siapa bilang masuk kedokteran itu enaknya saja, seperti bicara soal gaji dokter yang tinggi. Jika mahasiswa fakultas lain saat OSPEK harus membuat atribut warna-warni kemudian dihukum push-up, maka mahasiswa kedokteran bertemu dengan mayat! Dihadapkan dengan wajah kematian.
Bagi Lira, pengalaman ini justru memberikan sensasi berbeda. la yang selama ini dari kecil selalu di bawah ketiak orang tua, tak banyak dapat izin kegiatan ekstrakurikuler, sekarang malah harus OSPEK di kamar mayat! Satu sisi ia bangga juga, meski sisi hatinya yang lain kesal dengan OSPEK macam ini. Ditambah lagi, bertemu tubuh yang sudah mati bukanlah hal baru baginya. Semenjak kecil, hewan-hewan peliharaan kesayangannya, silih berganti ia kuburkan di belakang rumah.
Tangan Lira yang satu lagi menyalakan senter kecilnya. Senter itu tadi sempat dikerjai oleh seniornya di luar.
"Tidak boleh bawa yang diameternya lebih besar dari satu sentimeter,"perintah para senior itu.
Mana ada senter yang begitu. Kalaupun ada, susah sekali dicari. Maka, senter Lira yang diameternya lima belas sentimeter itu, harus dimodifikasi. Lakban hitam menutup hampir seluruh bagian depan senter itu. Tersisalah lubang mungil sebesar satu sentimeter.
Tangan Lira meraba kadaver itu dengan hati-hati. Saat kali pertama menyentuh, ia seperti kena kejut listrik. Pompa di jantungnya bekerja makin cepat.
Lira harus mencari sebuah sedotan, di dalamnya berisi kertas yang tergulung. Perintah untuk Lira ada di dalam gulungan itu. Sudah seperti ujian ninja, mencari gulungan kertas.
Keringatnya mulai terasa. Padahal ruangan penyimpanan jenazah ini berpendingin udara. Waktu terasa lama sekali. la obok-obok organ dalam kadaver itu. Mulai dari tenggorokan, paru-paru, usus, hingga ginjal.
Entah kenapa orang ini dulu meninggalnya, yang jelas ya karena ajal. Ia bergantian diobok-obok oleh mahasiswa baru para calon dokter ini. Malang sekali nasib kadaver ini.
Lira tak menemukan apa-apa pada kadaver pertama. Ia berjalan lagi ditemani cahaya senter satu sentimeter. Sesuai instruksi, sebelum pergi ia menunduk sedikit, dan mengucapkan maaf serta terima kasih pada kadaver itu dalam hati. Maaf karena sudah diobok-obok, terima kasih atas jasa menjadi guru.
Kini cemasnya mulai hilang sedikit. Kepekaan hidung dan matanya juga sudah mulai beradaptasi. Bau pekat harus ditahan, gelap harus dilewati.
Lira berjalan lagi. Beberapa kantong mayat dan keranda ia lewati. Sembari berjalan maju mundur, ia menebak-nebak kadaver mana yang menyimpan petunjuk untuknya. Saat Lira berjalan mundur itulah, punggungnya menyentuh sesuatu. Benda itu melayang.
Mahasiswa termuda itu terpekik. Suaranya terdengar hingga ke luar laboratorium. Ternyata kadaver itu bergerak-gerak! Lira makin terpekik. Ia berlari, tak tentu arah, menabrak sana-sini, lalu terjatuh. Jari salah satu kadaver-yang ia sempat kira cicak—menempel di keningnya. Ia terpekik lagi. Bias gelap membuat bayangan dan gerakan kadaver tadi cukup terlihat.
Saat napasnya belum teratur itu, Lira menyadari ternyata kadaver yang satu ini digantung. Ia ingat lagi, tak boleh ada alasan takut. Lagi pula, menurutnya ketakutan tak dapat dihitung. Lira mendekati kadaver itu sambil menyeret sebuah kursi. Suara seretannya menambah kesan horor.
Tangannya meraba-raba organ dalam kadaver kedua ini. Entah apa sekarang yang ia sentuh. Keringatnya yang tadi mengucur, mulai mengering dan meninggalkan sensasi dingin menggigil.
Tak ada apa-apa juga dalam tubuh kadaver itu. Lira turun dari kursi, menghela napas, mengerjap-ngerjapkan mata yang perih, lalu cepat-cepat menunduk memberi hormat dan mengucapkan terima kasih. Jika pada kadaver pertama ia merunduk dengan rasa cemas, kini berganti rasa takut. Bisa juga ternyata ia takut.
Lira mulai mengandai-andai jika kadaver ini bisa bicara, pasti Lira akan tanya langsung di mana gulungan kertas itu berada. Tapi akan mengerikan juga, kalau kadaver itu bisa bicara. Langsung ia buang pikirannya.
Rasa takutnya itu bercampur kesal. Desas-desusnya OSPEK yang seperti ini sudah tak ada lagi. Nyatanya masih ada. Lira tak habis pikir. la bersumpah kelak akan menghapuskan OSPEK masuk kamar mayat begini. Jika nanti menjadi pemimpin di kampus, hal semacam ini harus ditiadakan. Jelas-jelas tak ada urusannya uji mental dengan perkembangan akademik.
Tambah menyebalkan lagi bagi Lira, bahwa ini adalah Fakultas Kedokteran Kampus UDIN, Universitas Damba Inspirasi Negeri. Kampus terbaik di negara ini, dengan almamaternya yang terkenal berwarna kuning-kuning hambar hanyut di sungai itu.
Lira tak lagi mengendus bau busuk. Lebih tepatnya, hidungnya benar-benar sudah bebal dengan bau menyengat ini. Ia coba konsentrasi dan percaya instingnya. Senter satu sentimeter ia arahkan ke satu pojokan. Lira berjalan tidak lambat, tidak pula cepat.
Di atas keranda itu, tampak tumpukan yang berbeda. Kadaver ini tidak sebesar dua kadaver sebelumnya. Apakah mungkin itu hanya potongan paha atau lengan? Atau bahkan kepala? Belum sempat ia memprediksi itu bagian tubuh apa, tiba-tiba sudah ia buka saja.
Kali ini, rasa cemas dan takut tadi, berubah jadi rasa sedih dan marah. Marah, marah, dan dendam.
Ia melihat kadaver mungil. Jenazah bayi.
Entah dorongan dari mana, sesuatu yang hangat hendak memberontak dari pelupuk mata Lira. Tangannya seperti bergerak sendiri. Ia sentuh sedikit wajah kadaver mungil itu. Lalu membuka kain penutupnya.
Bayi mungil tanpa dosa. Siapa orang tua yang tega betul melakukan ini? tanya Lira dalam kepalanya. Tidakkah mereka punya rasa cinta? Sampai tega sekali membunuh bayi ini. Sungguh tak adil sekali dunia.
Marah, Lira marah. Marah pada siapa pun dua manusia di luar sana, yang hanya ingin memetik kenikmatan tanpa diiringi rasa tanggung jawab.
Badai menghantam kepala remaja empat belas tahun itu. Selain karena selalu akselerasi sejak Taman Kanak-Kanak, kejadian malam ini membuatnya terasa lebih cepat menjadi dewasa.
Tangan bayi cantik ini seperti menggenggam sebuah benda. Itu dia benda yang Lira cari. Ia tarik pelan-pelan, jemarinya sempat menyentuh jemari bidadari itu.
Sekali lagi ia merunduk, memberi hormat, meminta maaf dan berterima kasih. Kali ini, ia merunduk lebih lama dari dua kadaver sebelumnya.
Lira bergegas menuju pintu keluar. Ternyata dikunci.
"Lakukan perintahnya!"
Seru seseorang dari balik pintu.
Langsung Lira mengambil kertas dalam sedotan itu.
"Nyanyikan lagu Sayang Semuanya, ganti huruf vokal jadi O."
Lira kini jadi geram. Kenapa lagu yang harus ia nyanyikan adalah lagu anak-anak? Apakah karena dia adalah mahasiswa termuda, lalu diperlakukan seperti anak-anak? Tadi ada yang menyanyikan lagu orang dewasa.
Tak ada pilihan. la mulai bernyanyi, agar cepat-cepat keluar dari laboratorium ini.
Soto soto, oko soyong obo.
Doo doo, jogo soyong oyoh.
Togo togo, soyong odok kokok.
Soto doo togo, soyong somoonya.
Lira tak ikhlas betul menyanyikan lagu ini. Bukan karena liriknya yang diganti dengan O semua. Melainkan karena ia tak mau dianggap seperti anak-anak, kedua karena kadaver mungil tadi. Kenapa ia harus sayang ayah dan ibunya? Ia bahkan berhak untuk punya alasan membenci mereka.
Pintu itu terbuka dari luar. Lira melihat beberapa orang menahan cekikikan. Beberapa orang lainnya-teman seangkatannya yang juga sudah selesai melakukan ritual itu-mengeluarkan ekspresi seakan memberi dukungan moral.
Cekikikan itu mulai mereda. Lira bergegas mencari tong sampah terdekat, ia muntah-muntah.
Lira kemudian bergabung dengan yang lain. Lanjut mengerjakan tugas yang juga harus dikumpulkan besok setelah seminar penutupan OSPEK. Baru saja Lira hendak menyesuaikan suasana, pintu laboratorium itu kembali dibuka. Seorang mahasiswi lain yang gilirannya setelah Lira, sudah keluar begitu cepat.
"Wah, cepat banget dia?" bisik mahasiswa lain.
"Tau deh tuh, pacarnya komisi disiplin. Lo gak tahu?"
"Dan gak ada nyanyi, atau perintah apa gitu? Wah," sambung yang lain menggerutu.
Mendengar itu, Lira makin ketus.
Pukul tiga lewat lima malam, seluruh mahasiswa selesai melakukan ritual. Mereka harus berkumpul kembali di auditorium pukul tujuh pagi, untuk seminar dan upacara penutupan.
"Besok yang jadi pembicara adalah wakil dekan, dan seorang senior. Dokter Jamal. Juga akan hadir beberapa senior kita dari berbagai keahlian."
Itu dia yang Lira tunggu-tunggu. la ingin bertanya sebanyak mungkin, spesialis apa yang cocok untuknya kelak saat jadi dokter betulan. Meskipun masih jauh sekali perjalanannya, Lira sudah menyiapkan dari sekarang. Kini dia punya dua pilihan di kepalanya. Spesialis kandungan, dan spesialis dokter anak. Masih ingat betul Lira, bagaimana mama tirinya keguguran.
Ayah Lira bersama sopir menjemputnya. Menunggu di parkiran dengan wajah lumayan ketus. Melihat wajah ketus itu, Lira sedikit senang.
"Kok, sampai tengah malam lewat gini, sih?" Kalimat overprotektif paling sederhana yang bisa Ayah Lira ucapkan.
"Ya, siapa suruh dulu milih kedokteran? Ayah, kan? Aku maunya sih, ilmu biologi," balas Lira campur canda dan serius.
Ayah malah mengeluarkan senyum. Senyum yang tenteram. "Hei, jangan gitu. Banyak orang mau duduk di kursi kedokteranmu itu."
"Nah, ini risikonya, sampai lulus jadi dokter, mungkin akan sering gini. Makanya aku ngekos aja, ya?" Lira pun ikut senyum lepas. Senyum membujuk.
Ayah menggeleng. Obrolan soal ngekos ini sudah puluhan kali ditolak Ayah. Lira tak mungkin bertanya pada ibunya yang sudah tak lagi bersama mereka. Pada mama tirinya? Aduh, ujung-ujungnya tanya Ayah.
Saat mobil mereka keluar dari parkiran, dari arah tidak terlalu jauh, Lira mengintip mobil lain. Di bawah pendar lampu yang dikelilingi laron, tampak si mahasiswi tadi, yang keluarnya bahkan tak sampai dua menit dari laboratorium anatomi. Ia hendak naik mobil pula, dan seseorang mengecup keningnya. Samar-samar, Lira bisa melihat yang mencium itu betulan seorang senior.
Lira mendengus. Spontan ia bertanya, "Ayah dulu ketemunya sama Ibu kan dijodohin, ya? Kalau sama Mama?"
"Hah? Oalah, kok nanya itu? Jangan mikirin cowok dulu, ya. Kuliah aja."
Lira sempat merasa bersalah. Mengingat ayah dan ibunya bercerai sudah lama sekali. Dari pernikahan itu, lahirlah Lira. Kemudian hari, Ayah menikah lagi. Adik pertamanya, tak pernah lahir ke dunia. Adik kedua, barulah selamat sentosa dengan segala macam perjuangan Mama. Adiknya itu jarak usianya cukup jauh dengan Lira
"Kalau aku ketemu orang yang bisa jadi pacar, terus nanti nikah karena pilihanku, mungkin gak ya, aku bisa baik-baik aja dalam pernikahan? Gak kayak Ayah yang dijodohin?"
Terdiam Ayah mendengarnya. Ia tak siap dengan kalimat dari anak gadisnya itu. Namun, Ayah orang yang fair. "Ya, ada kemungkinan. Tapi ada kemungkinan nggak juga. Kalau udah soal nikah, itu gak ada rumus matematikanya."
"Maaf ya, Ayah." Lira tahu ia baru saja membangkitkan memori pahit di kepala ayahnya. Juga memori pahit itu begitu kuat di kepala Lira.
Dulu, Ayah dan Ibu bercerai karena tuntutan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tak seperti hal umum yang dikira orang, KDRT ini lebih banyak Ayah Lira jadi korbannya.
Lira kecil tak tahu masalah apa yang mendera ayah dan ibunya. Yang ia tahu, setiap hari selala berkelahi. Mulai dari berdebat, saling tak setuju, lalu nada bicara naik hingga berteriak-teriak, hingga saling pukul, jambak, dan hal-hal berbahaya lainnya.
Hatinya tak tahu harus memihak siapa. Yang Lira tahu, memang ibunya sering main pukul pada sang ayah. Main lempar benda dan segala macam. Ayah tak pernah melawan. Namun, setiap Ayah sudah habis kesabaran, setiap sekian belas atau puluhan pukulan, barulah Ayah membalas sekali saja. Hanya saja yang sekali itulah yang keras betul. Kedua orang tuanya kesetanan.
Di meja sidang, Ayah dinyatakan bersalah dan dibenamkan ke penjara. Dua tahun, Lira tinggal bersama ibunya. Dua tahun itu pula, ia dihina sekeliling oleh teman-temannya bahwa tak punya Ayah. Dua tahun juga waktu bagi Lira untuk tahu, ternyata memang ibunya suka main pukul bahkan padanya.
"Ibu jahat! Gara-gara Ibu, Ayah aku masuk penjara!" Anak kecil polos, apa yang ia rasakan itulah yang ia ucapkan.
Selepas Ayah keluar dari penjara, Lira merengek meminta tinggal bersama ayahnya. Maka hingga hari ini, Lira harus rela melihat Ayah dengan istri baru, dan tentu saja ia punya adik tiri.
"Gak perlu minta maaf. Ayah yang minta maaf, ya. Kamu sekolah aja terus yang benar ya, jadi orang hebat. Soal cinta-cintaan, nanti ketemu sendiri yang sama hebatnya. Yang pas. Yang bikin nyaman." Ayah lalu mengecup kening anak gadisnya itu.
Lira tersenyum sendiri. Sejak dulu, ia tak pernah pacaran. la dari TK selalu akselerasi. Saat SMP dan SMA, juga tak pernah. Bagi kawan-kawannya, ia terlihat seperti anak keil. Mungkin kali ini, dengan statusnya sudah jadi mahasiswi, ia bisa merasakan apa itu pacaran.
Jika selama ini ia tak tahu caranya, semoga di dunia kampus ia bisa menemukan rumus bagaimana bisa jatuh cinta.
Lira langsung rebah di atas mobi. Kini Lira hendak tidur dulu jika bisa. Semoga ia tak mimpi buruk bertemu arwah para kadaver. Besok pagi sekali, ia sudah harus sampai lagi di kampus.
***