Episode 1 novel Kado Terbaik
Ini adalah episode 1 novel Kado Terbaik. Untuk baca selengkapnya bisa pesan sekarang di marketplace Toko Buku JS Khairen.
2/7/20263 min read


Prolog
Ini cerita tentang seorang laki-laki.
Laki-laki yang memberi arti luar biasa terhadap hidupku. Kehadirannya begitu singkat, namun berhasil membuat taman di hatiku ranum untuk waktu yang lama.
Kehadirannya adalah kado terbaik. Menjelma senyum, yang takkan pernah aku lupakan. Apabila kado itu aku buka, buyar sudah rasanya seluruh masalah hidupku.
Namun, aku terlambat menyadari, kalau hadiah terindah itu takkan lagi pernah menghampiri.
Inilah kisahnya.
Akan aku ceritakan pada kalian.
Inilah kado terbaik itu.
Jika cerita ini tak menyajikan ketegangan atau keseruan yang naik turun seperti novel favorit kalian, itu karena memang beginilah adanya cerita yang aku dengarkan. Tak ada yang aku tambah. Tak ada yang aku kurangi.
Untuk seterusnya, kisah ini akan aku tuturkan sebagaimana ia bercerita kepadaku, namanya Rizki.
***
Episode 01 - Darah
Banyak kebetulan menyenangkan yang bisa berkumpul di kehidupanmu.
Cara mengundangnya adalah dengan niatkan, jalankan, doakan, dan beri senyuman.
Namaku Rizki.
Usiaku empat belas tahun. Saat ini aku berdiri di depan panti asuhan, membawa dua adik perempuanku.
Tidak. Aku bukan anak yatim piatu. Ibuku masih hidup. Tapi, dua menit yang lalu adalah terakhir kali aku bertemu dengan ibu. Hingga kelak aku dewasa, kami tak pernah bertemu lagi. Dua menit yang lalu, adalah kali terakhir juga aku mencintai ibu.
Ayahku tewas tertembak. Kini nasib buruk itu tak selesai pada detak jantung ayah yang berhenti. Degup nahasnya berpindah pada kehidupanku, dan dua adik perempuanku.
Panti asuhan ini bukan panti asuhan betulan. Kalian salah besar. Dari luar memang ada plang besi bertuliskan panti asuhan. Di dalamnya? Penjara yang amat menakutkan.
Tak perlu menunggu besok bagi kami merasakan hal mengerikan. Di hari pertama kedatangan, malamnya kami bertiga langsung hampir mati.
“Kak, Rizka takut,” tatap Rizka saat seseorang hendak menyeretnya paksa. Orang itu bukan penghuni panti, bukan juga pengelola. Tampangnya preman. Rambutnya acak-acakan. Tato penuh di lengan kanannya.
Orang itu membawa adikku ke atas sebuah mobil. Setiap Rizka berteriak, setiap itu pula ia menjambak rambut dan memukul pipinya.
Rizka, usianya tujuh tahun. Rambutnya lurus, ada kawah indah lesung pipi di wajahnya. Lesung pipi itu yang barusan dipukul. Aku remuk melihatnya.
Usia Rizka tujuh tahun. Malam ini, harusnya ia menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari. Tapi tidak. Hari pertama di panti asuhan, ia sudah berkenalan dengan dunia yang brengsek ini. Kenapa ibu tega sekali membuang kami begini?
“Heh kau kira makan di sini gratis?” Teriak orang itu.
Aku marah. Mencoba memberontak, namun yang aku dapatkan adalah bogem mentah dari seorang lainnya. Darah mengalir deras dari hidung dan dahiku.
Sakit sekali. Namun sakit ini tak seberapa. Kalian pernah melihat kucing dipukul dalam karung? Oleh besi besar karatan? Aku pernah. Mata kucing itu amat ketakutan. Suaranya terpekik-pekik. Seperti itulah Rizka sekarang.
Mereka pergi membawa Rizka, keluar panti asuhan. Aku berusaha mengejar, namun sekali lagi hantaman keras aku terima.
Kalau bukan karena adikku yang satu lagi, mungkin orang-orang ini betulan akan membunuhku.
Adikku yang satu lagi, baru lahir empat hari lalu. Ibu tak menitipkan apa-apa saat berpisah selain ketakutan. Sekalipun itu menitipkan nama untuknya.
Si kecil tanpa nama itu menangis. Tak ada yang bisa mendiamkannya. Seorang perempuan paruh baya mengambilnya dari tanganku, orang yang kemudian aku kenal sebagai istri dari pemilik panti asuhan ini.
Ia coba gendong-gendong sebentar, tak juga diam. Suaminya, laki-laki bertubuh agak pendek itu berteriak ketus.
“Kasih air aja,” katanya.
Aku mendengus. Adikku bisa mati kalau begini. Belum tahu nasib Rizka akan seperti apa, aku tak siap harus kehilangan lagi anggota keluargaku. Seminggu lalu ayah, tadi siang ibu, beberapa saat yang lalu Rizka, dan sekarang Si Mungil akan mereka kasih air?
Tidak!
Dengan sisa tenaga, aku coba bangkit. Ibu pemilik panti menatapku. Tanpa ucapan, ia mengembalikan Si Mungil padaku. Berharap ada sedikit ikatan batin yang bisa membuatnya terdiam.
Kini aku yang menggendongnya. Sama saja, tetap menangis. Bayi ini kelaparan. Ia butuh susu ibu.
Anak-anak panti yang sudah remaja, juga mencoba menghiburnya. Tidak juga bisa.
Tak lama, bapak pemilik panti pergi dan kembali membawa kotak kecil. Itu susu formula.
“Lo harus ganti ini!” Tatapan kejinya mengarah padaku.
Istrinya menggeleng tipis pada sang suami. Ia pergi ke dapur, tak lama ia memberikan susu itu.
Si Mungil terdiam. Perutnya kenyang. Ia tertidur.
Saat ia bangun yang entah ke berapa kalinya, Rizka pulang. Ini sudah lewat tengah malam. Tubuhnya hempas di sebelahku. Ia memelukku erat sambil menahan tangis. Aku juga menahan sakit luka-luka.
Sejak ia lahir, tak pernah Rizka memelukku. Baru kali ini. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan pada Rizka.
Malam ini, kami bertiga, beradik-kakak, berdarah. Darah hitam kehidupan.
Kalian, saat seusia kami, sedang melakukan apa? Inilah ceritaku. Tak banyak yang tahu, tak banyak yang mau mendengarkan.
Inilah kisahku, tentang kado terbaik itu. Semoga aku bercerita pada orang yang tepat.
***