Episode 1 Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
Ini adalah episode 1 novel Dompet Ayah Sepatu Ibu. Untuk baca selengkapnya bisa pesan di marketplace Toko Buku JS Khairen.
2/6/20263 min read


Episode 01 - Anak Pinggang Gunung
Apa material termahal di dunia?
Tangis bangga ayah dan ibumu.
Hutan bambu berisik oleh angin yang membawa hawa dingin. Matahari belum menyapa Gunung Singgalang, namun gadis itu bak akan pergi perang.
Zenna memasang sepatu sekolahnya yang sudah rombeng, serombeng rumahnya. Sepatu itu, warisan dari lima kakaknya–Zenna adalah anak keenam dari sebelas bersaudara.
Sedetik kemudian, cekatan ia menggendong tasnya ke punggung. Sedetik setelah itu pula, sebakul jagung rebus ia tenteng di kepala. Tubuhnya tinggi kerempeng, dapat tenaga entah dari mana.
“Nanti kalau tamat SMA, Abak belikan sepatu baru di kota.” Janji mewah itu merambat hangat ke hati Zenna. “Untuk kuliah. Mau jadi guru kan?” Tutup Abak sambil mempersiapkan perkakas dan memasang jaket tebalnya.
Mendengar janji Abak, berisik hutan bambu berubah jadi syair terindah. Lebih merdu dari rabab yang sering Zenna dengar di pesta-pesta adat. Lebih rancak dari nyanyian artis-artis kampung.
Lebih-lebih, entah dari mana Abak tahu kalau Zenna bercita-cita jadi guru. Seingatnya, ia hanya pernah menyampaikan itu pada satu adiknya. Itu pun cuma celetuk ringan saja.
“Baca bismillah,” kata Abak melepas Zenna.
Zenna mencium tangan Abak. Tangan itu kasar karena bekerja menjadi kuli pengrajin emas. Mesin cacah, api panas, gerinda besi, palu dan bongkah emas adalah kawan akrab Abak. Bayarannya pas-pasan, untuk menghidupi keluarga dengan 11 anak, seringnya tak cukup. Namun saat harga emas menggila, kadang Abak dapat bonus.
Gadis berwajah tegas dan berambut gelombang itu pergi. Ia membelah hutan yang dingin dan angkuh tanpa jaket.
*
Sesekali Zenna berhenti di pinggir desa. Satu dua supir angkutan sayur ingin membeli jagung rebusnya untuk sarapan.
Satu jam lebih berjalan cepat turun gunung, ia sampai di gerbang sekolah. Jagung rebusnya sudah terjual setengah. Uangnya nanti untuk tambah-tambah beli beras, telur, dan garam. Kalau sedang agak banyak uang, mereka bisa makan ikan atau ayam. Itu pun sepotong harus dibagi untuk tiap dua-tiga anak.
Di gerbang sekolah, di lorong, anak-anak lain sibuk mengulang pelajaran atau berjanji untuk berbagi contekan. Zenna tidak. Ia menjajakan jagungnya.
Tangannya menari mengimbau teman-teman yang tampangnya tampak kelaparan. Zenna pandai beradu mata dengan mereka, mengangkat alis, dan tersenyum. Semua ia lakukan dengan satu detik, dan orang yang menatapnya langsung jatuh hati ingin membeli jagung Zenna.
Tepat saat lonceng berbunyi, saat itu juga jagungnya tersisa satu. Itulah yang kemudian ia makan untuk sarapan. Saku seragam kawan-kawannya penuh oleh pensil, penghapus dan alat sekolah lainnya. Sementara saku Zenna penuh uang receh.
Pengawas membagikan kertas, ujian pun dimulai. Konsentrasi Zenna lebih tinggi dari hutan bambu yang tadi melepas kepergiannya. Saat teman-temannya baru selesai menjawab setengah pertanyaan, Zenna sudah hampir selesai semuanya.
Di saat hampir selesai itu, ia menatap ke jendela, dan seketika pensilnya terjatuh.
Hari yang ranum ini, seketika hancur lebur.
Di jendela, berdiri kepala sekolah dan seseorang yang sangat ia kenal - kakak laki-lakinya yang paling tua. Mata orang itu nanar, berkecamuk badai.
Zenna belum tahu apa yang terjadi, tapi dia sudah terisak duluan. Kepala sekolah mendekat ke mejanya, dan berbisik. Tepat saat bisikan itu tuntas, bibir dan kelopak mata Zenna bergetar.
Langsung ia kencangkan tali sepatunya, juga tasnya. Bakul jagungnya yang sudah kosong, kembali ia gendong. Seisi kelas bingung apa yang terjadi. Kenapa Zenna tiba-tiba pergi di tengah ujian kelulusan?
Suara tapak sepatunya yang rombeng itu, saling timpa menimpa dengan suara uang receh di sakunya. Hanya ada satu suara yang tak terdengar, suara tangis histeris Zenna.
Zenna berlari kembali ke rumahnya, menembus hutan dan gunung seperti orang kesurupan. Bahkan kakak laki-lakinya yang paling tua tadi, tak bisa mengikuti kecepatan lari Zenna.
Tangis dan raungannya tertahan di mata dan hati. Bak gunung Singgalang yang tak pernah meletus lagi sejak zaman es, kini tiba-tiba meletus di dada Zenna. Seisi hutan dan desa-desa seperti ketakutan melihat Zenna berlari.
“Nanti kalau tamat SMA, Abak belikan sepatu baru di kota. Untuk kuliah. Mau jadi guru kan?”
Janji yang ternyata takkan pernah terpenuhi.
Selamanya.
Sepatu rombeng milik Zenna tadi berhenti di lereng terakhir sebelum rumahnya. Sudah tampak orang ramai, mengenakan kain sarung dan peci, juga telekung atau kerudung. Orang-orang itu mengaji-ngaji. Seperti mengaji melayat orang meninggal dunia.
Di antara lantunan mengaji itu, terselip suara tangis rintik-rintik. Suara-suara yang Zenna sangat kenal. Lima adik-adiknya.
Sampai di depan pintu rumah, orang-orang menyibak memberikan jalan untuk Zenna. Di pinggir-pinggir, semua kakak dan adiknya tengah menangis, meraung. Di tengah sana, tubuh Abak sudah diselimuti kain panjang. Umak juga meraung-raung memeluk Abak, raungan paling keras.
Zenna berjalan pelan, mendekati tubuh itu.
Pagi ini hidup Zenna runtuh.
Seruntuh-runtuhnya.
Masih ia simpan tangisnya. Ia paksa hatinya sesejuk Telaga Dewi di puncak Gunung Singgalang.
Selepas ujian hari itu, semua kawan-kawannya datang. Mendapati Zenna duduk terisak di kuburan Abak.
Seorang guru meremas pundak Zenna. Maka saat itu juga, Zenna merebahkan kepalanya ke dada guru itu, Bu Erita.
Saat itu juga, tangisnya lepas. Raungnya mengalahkan riung hutan bambu.
***