Episode 1 novel Bungkam Suara

Ini adalah episode 1 novel Bungkam Suara. Untuk baca selengkapnya bisa pesan di marketplace Toko Buku JS Khairen.

2/6/20265 min read

“Kita tidak butuh orang pintar. Kita butuh orang jujur.”

– Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia Group.

Prolog

Ini adalah hari bebas bicara di Negara Kesatuan Adat Lawaknesia (NAKAL). Siapa pun bebas bicara, terang-terangan tanpa takut terjerat hukum.

Tiap warga bebas berbicara: membongkar semua kejahatan, membeberkan penipuan, ketidakadilan,

hingga penindasan. Tujuannya, agar tercapai keadilan untuk seluruh rakyat.

Namun kawan, tujuan mulia ini berubah jadi awan hitam. Jutaan aib terbongkar. Panen Jutaan fitnah. Kebencian dan perundungan berserakan. Rakyat berkelahi dengan rakyat. Tetangga berseteru dengan tetangga. Guru bertikai dengan murid. Karyawan saling tak percaya dengan atasan. Anak saling hantam dengan orangtua. Kekasih saling menikam curiga. Sahabat saling mengobarkan amarah. Ucapan orang terdekat merobek dinding tiap rumah.

Ini adalah Hari Bebas Bicara.

Dendam, benci, amarah, semua lepas berkeliaran.

Tapi percayalah, kawan, orang jujur selalu ada, bak jarum dalam tumpukan jerami sekalipun.

***

“Apa yang kau ucapkan dengan usil, bisa pulang padamu membawa sial.”

Episode 01 - Bebas Bicara

Distrik Nangmie, pagi hari.

Seekor beo tua tampak tak bersemangat. Ini pagi yang sibuk. Tak ada manusia yang mau bercakap dengan beo itu. Pemiliknya sendiri saja malas mengurusnya.

Di Nistrik Nangmie, orang pulang pergi kerja bak kesurupan. Jangan harap ada manusia bertegur sapa sesama manusia, apalagi pada beo jelek itu. menyapa burung jelek itu. Semua aktivitas terpantau CCTV, langsung muncul di pusat data Istana Kerajaan, berbicara sesama manusia adalah aktivitas menakkutkan.

Cuma seorang yang mau menyapa burung itu. Seorang pemuda bernama Jujur Timur. Kebetulan, si beo ini milik tetangganya.

“Timmy, Timmy.” Kata si beo saat dulu menyapa pertama kali, bertahun-tahun lalu. Sejak saat itu, orang-orang ikut memanggilnya dengan nama Timmy.

Namun kini semua orang di Distrik Nangmie benci keluarga Timmy. Itu karena kejadian setahun lalu. Saat Ayah Timmy kena hukum, jadi pendosa besar di negara ini.

Dari tadi, beo menanti-nanti, kenapa pintu rumah Timmy tak juga terbuka? Biasanya Timmy dan Ibu sudah berangkat kerja jam segini. Dia ingin mendapat sapaan hangat seperti biasanya dari Timmy.

Krittt.

Pintu itu terbuka, tetapi yang muncul adik laki-laki Timmy. Ia tak pernah melihat ke beo tua yang payah itu. Jangankan pada beo, pada jalanan saja tidak. Matanya sudah fokus pada gadgetnya. Memainkan video game yang terasa lebih seru daripada menghabiskan sarapan buatan ibu.

Adik Timmy memencet avatarnya, dan ia masuk ke dalam dunia permainan itu.

“Ulung the East Emperor. Muncul nama dan avatar Ulung. Nama itu diambil dari namanya, Ulung Timur.

Segerombol tikus kesiangan mencericit. Mereka mengincar pojok-pojok tong sampah busuk, sibuk dengan kerakusan..

Beo yang suka bicara apa adanya, tak cocok berkawan dengan makhluk-makhluk busukk itu. Ia lebih memilih diam sendirian, daripada harus berbaur bersama tikus-tikus kotor.

Saat tikus-tikus itu asyik mengais, keetika itulah Timmy membuka pintu rumah dengan tergesa. Tikus-tikus itu kabur. Saatu CCTV terdekat menyorot dan mendeteksi wajah Timmy serta ibu.

Timmy mendorong sepeda dan mengikatkan sebuah koper kulit di atas joknya. Timmy tak pernah menggunakan sepeda untuk berangkat kerja. Ia dan Ibu hendak menjual sepeda itu. Mereka tak punya uang yang cukup, bahkan untuk membayar sewa rumah ini.

“Timmy, Timmy!” Paruh beo itu langsung tegak, kepalanya seperti pendulum bergoyang kiri kanan, seperti bertemu teman lama.

“Timmy, Timmy!”

Timmy tak menggubris. Ibu yang ikut keluar bersamanya, melemparkan sepotong buah-buahan ke kandang beo tua. Saat melempar itu, Timmy seperti tidak terima. Mereka kini bisa dibilang keluarga serba miskin, masa’ harus memberi makan untuk beo tetangga?

“Itu tadi tak dimakan adikmu,” kata Ibu mencoba membela diri sebelum Timmy sempat marah. Memberi makan pada beo itu membuangbuang makanan.

Timmy lekas menggandeng erat tangan ibunya. Mereka berangkat, meninggalkan rumah sederhana yang sudah buruk. Timmy dan Ibu bekerja di tempat yang sama. Di kebun durian. Terpaksa menjadi petani. CCTV bergantian menyoroti keluarga kriminal ini.

Sepanjang perjalanan, tatapan beberapa orang begitu sinis dan jahat pada mereka. Ini sudah terjadi sejak setahun belakangan, sejak Hari Bebas Bicara tahun lalu. Dinding rumah-rumah perkampungan tengah kota itu juga seakan marah mengusir mereka.

“Siapa orang yang begitu kuat di belakang ini semua?” bisik Ibu masih tak terima. Ia meremas telapak tangan Timmy, tangan itu terasa besar sekali bagi Ibu.

Timmy dengan sudut mata melihat ekspresi wajah Ibu. Tak lagi seperti manusia hidup. Tak pernah terbayang oleh pemuda dua puluh tiga tahun itu, harus menjadi pemimpin keluarga, yang hidup di bawah hujan hujatan setiap hari.

Semua orang begitu jijik dan marah melihat keluarga ini. Padahal yang membuat kesalahan bukan mereka, melainkan Ayah.

“Kenapa ayah yang bersalah atas kasus itu? Jahat sekali. Pasti Ayahmu jadi tumbal!” Rintih ibu membantu Timmy mendorong sepeda.

Timmy tak tahu jawabannya. Ia sudah berusaha berdamai dengan keadaan. Memang terasa jahat sekali di dada Timmy. Semua orang, benarbenar membenci mereka, akan hal yang mereka tak tahu apa. Yang Timmy tahu sekarang adalah bagaimana cara agar bisa pergi dari negara ini. Selamalamanya.

“Tim! Kita harus balas mereka!” Ujar Ibu. Surah ratusan kali Ibu bilang begini.

“Mereka siapa?” tanya Timmy balik, yang juga sudah ratusan kali ia menjawab begini.

Sama, ibunya juga tidak tahu. Percakapan selalu terhenti di poin ini.

“Yang penting, sekarang kita bisa hidup, cari makan. Berkumpul bertiga dengan adik. Itu sudah cukup, Bu.” bujuk Timmy. Ia tak menyebutkan rencananya untuk kabur dari negara yang tak adil pada keluarganya ini.

Kaki mereka berbelok di salah satu rumah. Tampak sekelompok remaja berpakaian sekolah sedang bermain dengan gadget mereka. Ada satu anak tak berpakaian sekolah, terpisah dari rombongan itu. Usianya sekitar lima belas tahun. Timmy dan Ibu mendekat.

“Hari ini panen, mungkin Abang dan Ibu pulang lebih sore.” Timmy merunduk.

Adiknya masih asyik bermain.

“Mampus kalian sialan!” teriak Ulung the East Emperor. Ia berhasil mengalahkan sekelompok anak yang duduk di seberang.

Timmy melotot mendengar ituu, langsung menutup mulut adiknya. “Hei! Jangan berkata kasar! Kamu bisa ditangkap. Ini belum Hari Bebas Bicara!”

“Aku tak peduli!” bentak Ulung. Sebuah CCTV menangkap dan memperbesar tampilan wajahnya.

“Ulung!” Ibu menegur dengan nada tegas namun tidak keras. Takut mencuri perhatian.

“Mereka menuduhku berbuat curang!” Ulung tidak terima. “Heee ayahnya penipu, dia juga pasti penipu. Suka curang!” Ia menirukan hinaan para remaja itu. “Kenapa mereka tidak ditangkap karena menghina Ayah?”

Mendengar itu, wajah Ibu kembali terlipat sedih. Ia ikut merunduk, membelai rambut Ulung.

“Akan datang waktunya, Nak. Akan datang.” Nada Ibu penuh dendam, lalu menatap ke arah anak-anak itu bergiliran.

Tatapan itu mereka tangkap dengan ketakutan dan kebencian. Timmy yang juga tak terima adiknya kena rundung, berjalan mendekat, lalu menjepret mereka dengan gadgetnya.

“Dengar-dengar orangtua kalian tak tahu kalian bolos ya?” Timmy kini memegang sebuah bukti foto. Dari kecil, Ayah selalu mengingatkan Timmy dan Ulung untuk saling melindungi sesama saudara.

Gerombolan remaja itu langsung berdiri di kendaraan roda satu mereka, lalu pergi.

Singgg.

Mereka menaiki mono wheel murahan. CCTV juga ikut menyorot. Mono wheel gerombolan remaja itu termasuk kualitas paling buruk yang dibelikan oleh orangtua mereka. Meski begitu, masih lebih baik hidupnya daripada Timmy dan Ibu, dua orang dewasa yang bahkan harus berjalan kaki setiap hari.

“Ayo kebut-kebutan!” teriak salah satu dari mereka.

Saat gerombolan remaja itu pergi, tampak gurat kecemburuan di wajah Ulung.

“Sudahi mainnya, belajar di rumah,” kata Timmy sambil meminta gadget Ulung.

Mereka sama-sama terdiam sesaat.

Itu kalimat yang amat tajam bagi mereka bertiga, dan Timmy menyadari itu. Tak ada sekolah lagi yang mau menerima Ulung sejak Ayah mereka jadi kriminal tingkat tinggi.

Timmy merebut gadget adiknya. Menempelkan ke gadget miliknya untuk mentransfer sedikit uang.

Biiip.

“Itu Abang lebihkan. Untuk beli makan siang dan makan malam, kalau-kalau kami pulang lama sekali.”

Ulung tak tersenyum, tidak juga berterima kasih. Sesuatu dari tadi mencuri rasa tanya di kepalanya.

“Itu barang-barang Ayah mau Abang bawa, buat apa?”

Mata mereka bertiga kompak melihat koper kulit ukuran sedang yang diikat di atas sepeda. Juga tampak pompa sepedanya sekaligus.

“Ibu?” Ulung penasaran.

“Tidak, tenang saja.” Ibu berbohong, ia melangkah pergi. “Ayo nak, kita bisa terlambat.” Ia mengajak Timmy agar bergegas.

Timmy pun pergi meninggalkan adiknya. Mendorong sepeda, dan berjalan cepat menggandeng ibunya. Ulung mengejar mereka.

“Abang? Mau abang jual ya?” Ulung sesak.

Timmy, nama aslinya Jujur Timur. Entah bagaimana, kekuatan nama itu tak sanggup membuatnya berbohong.

“Bang, sepeda itu jangan dijual bang!” Ulung makin sesak.

Tatapan orang-orang ternyata sudah dari tadi melihat mereka. Apa lagi yang akan dilakukan keluarga kriminal ini? “Itu punya Ayah!” Timmy terhenti.

“Ayah tidak pulang! Tidak akan pulang!” Mata Timmy berubah marah.

Ulung terdiam.

Timmy dan ibu lanjut berjalan.

“Bang,” kini nada Ulung merintih. “Komputer Ayah? Aku suka main game di situ. Aku mohon…”

“Tidak. Masih ada di gudang bawah.”

Timmy dan ibunya makin jauh. Ulung makin sesak.

“Ayahku tidak seperti yang dikatakan orang-orang itu!” teriak Ulung. “Abang penakut!” Ulung menahan geram. Melanjutkan main game di gadgetnya.

Timmy dan Ibu pura-pura tak mendengar.

***