Episode 1 buku Hal Yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku
Ini adalah episode 1 buku Hal Yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku. Untuk baca selengkapnya bisa pesan di marketplace Toko Buku JS Khairen.
2/6/20267 min read


Bertemu Sekali Lagi
“Makna senyum menjadi jauh lebih dalam,
ketika mata juga ikut tersenyum.”
The Great Nusantara, Tahun 2376.
Nenek Kinanti menanti ajalnya sendirian. Oh, tidak juga, semua anaknya hadir di ruangan ini. Hadir lewat panel transparan. Lewat sana ia berkomunikasi, lewat panel-panel ini empat anaknya ‘menjenguk’ sang ibu.
“Tapi aku memang tampak lebih tua,” ujar seseorang. “Ibu awet muda sekali.”
“Segelas jahe merah. Kau lupa, Kak? Tiap pagi Ibu mencampurnya dengan madu,” ujar seseorang lain yang juga sudah nenek-nenek. Di sekitarnya tampak dua orang anak kecil berlari-lari.
“Aku tiap pagi juga,” kata seorang kakek-kakek tampak menelan sebuah pil kecil, “Hanya saja beda kemasan.”
Seorang nenek-nenek lainnya diam saja sambil sesekali menyahut obrolan saudara-saudaranya. Seperti biasa, suara obrolan anak-anak Nenek Kinanti - yang juga sudah nenek-nenek - selalu menyambut kedatanganku. Aku menatap panel itu sebentar sebelum melangkah mendekati pasienku pagi ini. Keempatnya terus berbicara meskipun sosok ibu yang mereka bicarakan hanya terbaring di kasur dalam diam.
Panel-panel komunikasi itu adalah salah satu teknologi komunikasi tercanggih saat ini. Tidak hanya bisa melihat orang dan mendengar suaranya, tapi kita juga bisa muncul keluar dari panel dalam bentuk tiga dimensi. Mampu meraba, bahkan mencium bau orang yang sedang berkomunikasi dengan kita.
Bayangkan kau menelepon seseorang dengan panel ini, seketika kita bisa muncul di sebelahnya. Ikut berkeliling, membelai rambutnya, atau menghirup bau masakan yang sedang ia masak.
Robot-robot medis yang memasang panel-panel itu. Sudah sejak hari pertama Nenek Kinanti sekarat, sekitar dua minggu lalu.
Tidak semua pasien bisa dapat kemewahan panel ini. Empat anaknya - yang juga sudah kakek nenek, tentu mampu membayar fasilitas ini. Aku, dokter yang memasang robot-robot itu.
Usia Nenek Kinanti seratus dua tahun. Kalau dibilang sakit parah, ya tidak juga. Kalau dibilang tidak sakit, ya ada sakitnya. Usia segitu, memang fungsi-fungsi organ tubuhnya sudah tidak maksimal lagi.
Mungkin kalian bertanya, apakah hingga tahun 2376 kami sudah menemukan obat anti mati? Jawabannya, belum. Tampaknya takkan pernah ditemukan.
Air terjun awet muda itu hanya mitos peradaban kuno. Manusia bahkan sudah mencari obat anti mati itu ke planet lain, ke sistem tata surya lain, ternyata masih tak ditemukan. Demi mencarinya, ratusan juta nyawa melayang oleh beberapa telunjuk saja. Telunjuk para pemimpin yang ketakutan.
Mata tua Nenek Kinanti amat redup.
“Selamat pagi, Nek Kinanti,” sapaku tanpa dibalasnya.
Jangankan membalas, menggerakkan pupil mata padaku saja tidak sanggup lagi dia. Satu-satunya indikator yang membuatku tahu Nenek Kinanti masih hidup, yaitu lewat panel transparan di meja. Jantungnya berdetak kian lemah, tanda-tanda vital kehidupannya makin tak teraba.
“Hai, Dok.”
“Berikan kami senyum seperti kemarin, Dok.”
“Hei, kau jangan menggoda! Dia masih muda sementara kau sudah nenek-nenek!”
Mereka berempat berbalas tertawa. Berbicara satu dua hal lainnya, lalu berhenti berkomunikasi. Kini di ruangan ini tinggal aku dan Nenek Kinanti. Aku tak memiliki asisten. Dokter bekerja sendirian dengan bantuan robot-robot medis. Tentu saja, Nusantara adalah negara penghasil dokter terbaik di dunia.
Aku keluarkan sebuah kapsul seukuran ibu jari. Dari kapsul itu, muncul panel transparan lebih kecil. Tanganku yang sudah dibalut sarung tangan medis, memencet-mencet panel itu. Di saat yang sama, nanochip yang tertanam dalam tubuh Nenek Kinanti memberikan laporan padaku.
Masih seperti hari kemarin. Ajalnya makin dekat. Sebagai dokter, kejadian seperti ini sudah bukan hal asing bagiku. Begitu juga soal tak ada anggota keluarga yang menjenguk, itu sudah sangat umum di zaman ini. Apalagi di The Great Palangka, ibukota Nusantara. Mati, maka matilah sendirian. Toh sendirian tak lagi relevan sejak alat komunikasi tiga dimensi ini ada.
Ada sekitar tiga ratus nanochip dalam tubuh Nenek Kinanti. Tugasku berikutnya adalah mengirimkan nutrisi dan vitamin. Tidak ada lagi jarum suntik. Benda itu nyaris punah, meski masih dipakai sesekali untuk pengobatan tertentu.
Penggantinya? Benang robotik seukuran rambut dibagi tujuh. Benang yang jadi jalan tol bagi tiga ratus nanochip itu. Sekejap saja, mereka akan menembakkan hal-hal yang diperlukan ke dalam darah Nenek Kinanti.
Sebelum itu, aku coba raba denyut nadinya. Ini metode amat konvensional, tapi bagiku, ini perlu. Dunia kedokteran boleh amat canggih, tapi menyentuh pasien secara langsung membuatku merasa terkoneksi.
Pergelangan tangan penuh keriput itu dingin. Dua detik, tiga detik, tangannya bergerak tipis. Pastilah efek dari nutrisi yang barusan ditembakkan nanochipku. Cepat sekali mereka bekerja. Nenek Kinanti jadi punya sedikit tenaga.
Ia menatapku lemah. Pandangannya kemudian mengarah pada tombol lain yang lebih besar. Sebesar donat. Aku paham maksudnya, ia minta tombol itu dimatikan saja.
Aku iyakan.
Dalam sekejap, ruangan ini berubah kembali menjadi ruangan rumah sakit pada umumnya. Sebelumnya, ruangan ini ‘disulap’ lewat manipulasi grafis. Disulap menjadi mirip seperti rumah milik Nenek Kinanti. Lebih tepatnya, ruang keluarga tempat ia membesarkan anak-anaknya.
Harusnya, Nenek Kinanti bisa mengganti ruangan ini sendirian. Cukup ia pikirkan saja di otaknya, maka ruangan akan berubah. Tanpa perlu bantuan orang lain. Namun, itu dia, sel-sel di otaknya sudah terlalu lemah. Itu kenapa daftar putar ruangan ini harus diganti secara manual.
Mata renta itu beralih ke jendela. Aku juga paham maksudnya. Meski aku tak yakin, cahaya matahari pagi dapat membantunya hidup lebih lama lagi.
Aku berjalan ke arah jendela, lalu menyibak udara dan seketika lapisan pelindung jendela itu membuka. Tampak deretan gedung tinggi, di antaranya terselip pohon-pohon raksasa. Dulu, katanya kota ini adalah salah satu tempat paling rindang dengan belantaranya. Aku tak benar-benar yakin soal itu.
Napas Nenek Kinanti menghembus lega. Pertanda ia amat menikmati. Biarlah ia begitu, sembari aku melakukan pekerjaan yang lain. Biarlah Nenek Kinanti menikmati pagi nan indah di The Great Palangka yang mungkin untuk terakhir kalinya.
Tugas-tugasku selesai. Semua prosedur telah dilaksanakan. Dua hari lagi, itu waktu paling optimis bagi nyawa Nenek Kinanti. Paling pesimis? Nanti siang boleh jadi ia tak lagi ada.
Sebelum benar-benar keluar dari ruang rawat ini, Nenek Kinanti kembali melirik tombol tadi. Aku mengerti maksudnya. Ia minta ruangan ini disulap kembali seakan-akan menjadi rumah masa mudanya.
Begitu aku pencet, Nenek Kinanti mengedip dua kali. Ini pertanda aku masih salah melakukan permintaannya. Aku pencet ke kanan, ini seperti mengganti daftar putar lagu. Kini ruangan disulap menjadi aula kampusnya.
Nenek Kinanti masih mengedipkan dua kali matanya. Aku pencet lagi. Ruangan berubah menjadi rumah yang luas. Tampak seorang remaja mirip Nenek Kinanti, ia bersama kakak dan adiknya. Juga dua orangtuanya.
Nenek Kinanti lagi-lagi mengedipkan matanya dua kali.
Semua ruangan itu silih berganti menemaninya selama ini. Namun, ada satu ruangan yang tak pernah ia aktifkan. Aku sendiri juga penasaran, tempat apa yang Nenek Kinanti simpan untuk masa-masa akhirnya.
Apapun itu, pastilah ruangan ini memiliki memori terbaik sepanjang hidupnya. Atau setidaknya, ini ruangan yang cukup berkesan. Aku turuti saja, daftar putar ruangan aku pencet sekali lagi.
Ruangan ini berubah menjadi gelap. Aku bingung.
Ruang apa ini? Apakah kamarnya saat malam pertama bersama suami? Ataukah ia pernah mengalami kejadian menakutkan seperti disekap penjahat? Ataukah ini hanya simbol bahwa ia ingin ketenangan dan kehampaan? Toh, bisa saja, mengingat ia sebentar lagi tiada.
Lama aku terdiam berdiri. Cahaya tipis menerangi tubuh Nenek Kinanti. Itu efek dari ruangan yang ia ‘ciptakan’ dalam pikirannya.
“Helmaaa pipissss!” teriak sebuah suara.
Cahaya tipis tadi berubah menjadi lampu. Lampu itu menempel di kening anak kecil yang berteriak.
“Mamaaa, aku dipipisin Helmaaa!” teriaknya lagi.
Seketika, lampu-lampu lain ikut menyala. Aku akhirnya sadar, ini adalah sebuah tenda. Entah tenda piknik, atau tenda gunung, entahlah. Yang jelas, Nenek Kinanti sedang bersama keluarganya di tenda ini.
Terbit senyum di wajahnya. Ya, senyum yang tak terlalu terlihat dari bibirnya, tapi terlihat jelas dari matanya. Senyum yang sejak ia jadi pasien di sini, tak pernah aku lihat.
Menyaksikan Nenek Kinanti mulai menikmati momennya, aku melangkah mundur dan pamit. Sebelum pintu benar-benar aku tutup dan pergi, aku intip sekali lagi. Boleh jadi ini kali terakhir aku bertemu dengannya. Senyum tua itu berkisah bak candi nan megah.
Di luar ruangan, aku lihat ternyata jadwalku untuk pasien berikutnya masih lima menit lagi. Bergejolak rasa ingin mengintip Nenek Kinanti lewat kamera pengamatan.
Aku berjalan menelusuri lorong, dan panel transparan di lenganku muncul. Memperlihatkan situasi dalam tenda.
Nenek Kinanti dan suaminya terbangun, sang suami tertawa sambil sigap mengangkat anak mereka yang paling kecil. Helma yang tadi ngompol, membuat kesal kakak perempuannya.
Satu kakak perempuan lagi, juga kasak-kusuk meski menahan kantuk. Sementara anak laki-laki tertua Nenek Kinanti - yang belum jadi kakek-kakek - acuh tak acuh masih menikmati alam mimpinya.
Aku kira mereka sedang camping di alam lepas. Namun, Helma memberontak. Ia yakin itu bukan ompolnya. Penghuni tenda keluar seketika mendengar teriakan Helma. Dari sinilah aku tahu, tenda itu berada dalam ruang keluarga. Ternyata, masih di rumah yang sama, bedanya mereka semua menginap dalam tenda. Entah apa pula tujuannya.
“Bukan, aku gak ngompol.” Usia Helma sekitar tiga atau empat tahun. “Nih buktinya.” Helma menunjuk popok kering yang sudah terpasang dengan baik di tempatnya. Bukti yang ia berikan amat kuat.
Aku tertawa tipis sembari melewati lorong rumah sakit menuju ruang pasien berikutnya.
Dua kakak perempuannya bingung, jelas-jelas ini bau pesing. Kalau bukan Helma, berarti ini salah satu di antara mereka. Mereka saling berdebat, hingga si kakak tertua bangun.
“Apa sih nih ribut banget?”
Tak ada yang menggubrisnya.
Ia mengucek matanya, mencoba memijit-mijit kecil pundak dan punggungnya, lalu menyadari sesuatu. Ia bergegas keluar tenda, lalu menuju kamar mandi. Saat ia menuju kamar mandi itulah, Kinanti dan suaminya saling bertatapan, lalu melepas pandangan jauh.
Sesampai di kamar mandi, tak salah lagi. Ternyata dialah yang ngompol. Bagaimana bisa ini? Usianya sekitar empat belas tahun. Kenapa dia masih saja bisa ngompol?
Tentu saja sebagai dokter aku tahu puluhan alasan medis mengapa seseorang bisa mengompol meskipun bukan usia balita lagi, tapi aku tetap sedikit tertawa melihatnya.
Belum selesai anak tertua itu panik, dari balik pintu kamar mandi muncul Nenek Kinanti. Awalnya ia kaget, tapi ia tersenyum ke arah anak remajanya. “Lupa ya diminum obatnya?”
Ternyata benar, anaknya memiliki kondisi medis khusus. Aku belum mengerti, kenapa ingatan ini yang dipilih Nenek Kinanti. Apakah mungkin karena ini momen hangat kekeluargaan? Bukankah dari dua minggu belakangan banyak momen serupa?
Begitu Kinanti kembali ke tenda, tiga anak perempuannya tak mendapati sang kakak laki-laki ikut kembali. Lalu, Helma si kecil berlari menuju kamar kakaknya. Cukup lama setelah itu, Helma kembali sambil digendong oleh kakaknya.
“Itu tadi ompol aku. Kena celana kakak. Aku buru-buru ganti popok sendiri.” Helma malu-malu mengaku.
Aku tahu si kecil ini berbohong melindungi kakaknya. Tadi aku lihat sendiri di panel ini.
“Mungkin karena kedinginan, makanya ngompol,” sela ayah.
“Kalau gitu, kita malam ini tidurnya pelukan semua aja!” teriak Helma ceria.
Tampak di panel transparan seperti kamera TV yang menjauh. Posisi mereka tidur kini lebih rapat, agar hangat. Agar tidak ngompol lagi, seperti kata Helma. Namun, aku melihat lebih dari sekadar itu.
Mata Kinanti muda sempat terbuka sebentar, lalu tersenyum tipis. Tampak senyum yang beda.
Aku sampai di ruangan berikutnya. Panel transparanku berubah, berganti menjadi tampilan pasien berikutnya. Semoga selesai mengunjungi pasien yang ini, aku masih bisa menyaksikan memori indah milik Nenek Kinanti.
Waktu berlalu. Kunjungan demi kunjungan pasien tunai sudah. Menjelang jam istirahat siang, sistem informasi rumah sakit mengirimkan pesan ke panel transparan di lenganku.
Pasien atas nama Kinanti baru saja meninggal dunia pukul 11.52, pada usia 102 tahun.
Mengkerut keningku membacanya judulnya. Tak akan ada lagi kunjungan yang dibalas senyuman mata Nenek Kinanti.
Aku bergegas menuju kamar rawatnya. Begitu membuka pintu, sesosok manusia berdiri di sebelahnya. Ia juga sudah sangat tua, apakah ini suaminya? Rasanya tidak. Oh, tadi pagi aku melihatnya berkomunikasi dengan Nenek Kinanti. Berarti ini anak laki-lakinya.
Perlahan aku mendekati orang itu. Tiga panel komunikasi lain ikut menyala di sebelahnya. Tiga orang itu semua menangis. Mereka adalah tiga anak perempuan Nenek Kinanti, termasuk Helma.
Menangis karena dua hal, karena melihat ibu mereka pergi dan menangis karena tak ada di sisi ibu di waktu-waktu terakhirnya.
“Pak Dokter,” isak orang itu. “Apakah ibu tadi tersenyum?”
Mendengar pertanyaan itu, aku mengangguk takzim. “Nyonya Kinanti selalu tersenyum.”